JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM – Menjelang Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan rangkaian ziarah ke makam tiga mantan presiden: Gus Dur di Jombang, Soekarno di Blitar, dan Soeharto di Astana Giribangun. Bukan sekadar rutinitas tahunan, ini pengingat sejarah.
Jaringan Aktivis Nusantara (JAN) menilai langkah ini memiliki makna penting. Polri tidak hanya datang untuk berdoa, tetapi juga menyerap nilai kepemimpinan dari para pendiri bangsa. Ziarah ke makam Gus Dur di Tebuireng menjadi yang paling istimewa.
“Ziarah ini mengingatkan Polri dari mana ia berasal. Gus Dur adalah tokoh yang mengukuhkan pemisahan TNI dan Polri lewat TAP MPR 2000. Reformasi 1998 melahirkannya, dan itu harus dijaga,” ujar Ketua JAN, Romadhon Jasn, Minggu (21/6/2026).
Gus Dur, kata Romadhon, adalah bapak reformasi kepolisian. Dengan ketegasannya, Polri kini hadir sebagai institusi sipil yang mandiri. Ziarah ke makamnya adalah bentuk penghormatan sekaligus pengingat agar Polri tidak kehilangan arah.
Tak hanya Gus Dur, Kapolri juga menyambangi makam Soekarno di Blitar. Bung Karno, sang proklamator, menyimpan nilai perjuangan dan nasionalisme. Ziarah ke sana, menurut Romadhon, menunjukkan Polri menghormati akar kebangsaan.
“Menghormati semua presiden tanpa kecuali adalah sikap dewasa Polri. Tidak memilih-milih, tidak membawa selera politik. Itu yang kami apresiasi,” ujar Romadhon.
