“Penerapan program yang menyasar akar rumput ini sangat tepat, sebab benteng pertahanan terbaik melawan bujuk rayu calo fiktif harus dimulai dari ketahanan keluarga di tingkat desa,” tegas Romadhon.
Data KP2MI mencatat, sepanjang Januari 2025 hingga 12 Juni 2026, secara nasional telah terfasilitasi 433.169 layanan penempatan. Dari total 313.803 peluang kerja global, baru 76.907 (24,51%) yang terisi.
Banten sendiri mencatatkan 5.542 layanan penempatan dengan remitansi rata-rata Rp5 juta per bulan per PMI. Angka ini memberikan multiplier effect besar bagi UMKM dan daya beli masyarakat di daerah asal.
Namun, posisi geografis Banten yang dikelilingi akses laut dan udara menjadikannya titik rawan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Sepanjang Januari hingga Mei 2026, BP3MI Banten berhasil menyelamatkan 572 calon PMI dari keberangkatan ilegal.
Melalui MoU ini, kedua pihak sepakat meningkatkan koordinasi dalam penyebarluasan informasi peluang kerja resmi, pendidikan dan pelatihan, layanan kesehatan, penempatan, hingga pertukaran data.
Gubernur Andra Soni juga mendorong program Desa Migran Emas di tingkat akar rumput. Desa-desa di Banten diharapkan menjadi garda terdepan pelindungan sekaligus pusat kemandirian ekonomi bagi purna PMI dan keluarganya.
Menteri Mukhtarudin menambahkan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan program quick win SMK Go Global yang menargetkan 500.000 tenaga kerja terampil hingga 2029.
Sinergi ini diharapkan menjadi model bagi daerah lain dalam memperkuat pelindungan PMI secara terpadu dan berkelanjutan.
