Wisuda Penuh Air Mata di Pesantren Addurriyah: Kerinduan 14 Tahun Akhirnya Terobati

Berita43 Dilihat
banner 468x60

Kalimat sederhana itu membuat Ilham semakin larut dalam emosi. Ia mengira pesan tersebut hanyalah ucapan yang dikirim dari Hong Kong.

Namun kejutan sesungguhnya belum berakhir. Miftahol Munir kemudian meminta Ilham memejamkan mata sejenak. Setelah itu, ia diminta membuka mata dan mencari sosok ibunya di antara ribuan orang yang hadir.

banner 970x250

Perlahan Ilham memandang ke arah kerumunan. Tepat di depan panggung, berdiri seorang perempuan berkerudung kuning yang selama ini hanya hadir dalam layar telepon genggamnya.

Perempuan itu adalah Sri Rahayu. Tanpa menunggu lama, Ilham berlari turun dari panggung. Ia kemudian memeluk erat sang Ibu. Tangis yang selama bertahun-tahun tertahan akhirnya pecah.

Sri Rahayu menangis sambil memeluk putranya yang kini telah beranjak dewasa. Sementara Ilham terus menggenggam ibunya seolah tak ingin kehilangan lagi sosok yang begitu lama dirindukannya.

Suasana haru pun menjalar ke seluruh penjuru lokasi acara. Banyak wali santri, guru, hingga tamu undangan yang ikut menitikkan air mata menyaksikan pertemuan tersebut.

Bagi sebagian orang, wisuda adalah perayaan kelulusan. Namun bagi Ilham, hari itu menjadi lebih dari sekadar penanda berakhirnya masa belajar di pesantren.

Baca juga:  Menangis di Depan Kamera, Lana Rhoades Minta 400 Video Dewasanya Dihapus Demi Anaknya!

Hari itu adalah jawaban atas penantian panjang seorang anak yang selama 14 tahun hanya bisa memeluk ibunya dalam doa dan kerinduan.

Dan di sebuah pesantren di pelosok Pamekasan, jarak ribuan kilometer yang memisahkan Indonesia dan Hong Kong akhirnya runtuh oleh sebuah pelukan.

banner 336x280

Komentar