Serangan lain turut dilaporkan terjadi di sebuah kamp kelompok pemberontak Kurdi pro-Iran dekat Erbil, Irak utara.
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab mengklaim telah menembak jatuh drone yang disebut berasal dari Iran, sementara Kuwait menyatakan pasukannya telah menangani ancaman udara sesuai prosedur keamanan tanpa menyebut pihak yang bertanggung jawab.
Ketegangan di Selat Hormuz menjadi perhatian utama dunia internasional karena jalur tersebut merupakan salah satu rute distribusi minyak terpenting di dunia. Iran sebelumnya sempat menutup selat itu setelah serangan gabungan AS-Israel pada Februari lalu, memicu lonjakan harga minyak global.
Teheran bahkan sempat mewajibkan seluruh kapal yang melintas di Selat Hormuz untuk berkoordinasi dengan militer Iran dan membayar biaya transit sebesar 2 juta dolar AS.
Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, mengecam serangan terhadap kapal di wilayah perairan negaranya dan memperingatkan bahwa penggunaan Selat Hormuz sebagai alat tekanan politik hanya akan memperdalam krisis kawasan.
Sementara itu, Presiden Emmanuel Macron menyatakan bahwa rencana Prancis dan Inggris terkait pengamanan maritim di kawasan bukanlah operasi militer, melainkan misi internasional untuk menjamin keamanan pelayaran apabila kondisi memungkinkan.
Di Lebanon, situasi juga belum sepenuhnya stabil. Israel masih terus melancarkan serangan terhadap target yang diklaim terkait kelompok Hezbollah meski Trump sebelumnya meminta Israel menghentikan pemboman.
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 36 orang tewas dan 74 lainnya terluka akibat serangan udara Israel pada Sabtu lalu. Di sisi lain, militer Israel mengklaim berhasil mencegat sejumlah drone Hezbollah yang mendekati pasukannya di wilayah perbatasan selatan Lebanon.











Komentar