JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM – Di tengah gemerlap investasi nikel di Sulawesi Tenggara, sebuah kisah getir mencuat dari Desa Oko-Oko, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka. Pondok Pesantren (Ponpes) Imam Syafi’i, yang selama ini menjadi mercusuar pendidikan Al-Qur’an di atas lahan seluas sekitar 20.000 meter persegi, kini berada di ambang kehancuran.
Ancaman itu bukan datang dari bencana alam, melainkan diduga kuat akibat agresivitas aktivitas pertambangan PT Indonesia Pomalaa Industri Park (IPIP) yang kian mendekat ke kawasan pesantren.
Kabar mengkhawatirkan ini mencuat pada Senin, 8 Desember 2025, dan mengungkap ironi pahit: ruang yang seharusnya menjadi tempat ketenangan spiritual dan pembentukan karakter santri kini berubah menjadi zona rawan keselamatan.
Sejumlah foto yang diterima tim redaksi memperlihatkan kerusakan lingkungan yang cukup parah di sekitar Ponpes Imam Syafi’i. Kawasan yang dulunya hijau dan asri kini berubah menjadi lanskap tandus yang memprihatinkan.
Beberapa kondisi yang terpantau antara lain:
• Pohon-pohon penyangga lingkungan telah habis ditebangi, menyisakan hamparan tanah terbuka yang rawan longsor.
• Genangan air keruh menganga di sejumlah titik, membentuk kolam-kolam buatan yang berpotensi meluap sewaktu-waktu.
• Aktivitas alat berat tambang yang kian mendekat ke area pesantren.
Situasi tersebut memaksa pihak pengelola mengambil keputusan paling berat: mengosongkan sementara area pesantren demi keselamatan para santri dan tenaga pendidik.
“Lihatlah di sekitar kami, hampir semua pohon habis ditebangi. Ada genangan air yang bisa meluap kapan saja. Inilah alasan kami harus meninggalkan pondok ini sementara. Keselamatan kami dan anak-anak jauh lebih utama,” ujar salah satu pengelola pesantren dengan nada putus asa.
Tak berdaya menghadapi kekuatan korporasi tambang, pengelola Ponpes Imam Syafi’i hanya mampu menyuarakan kondisi mereka melalui media sosial. Akun resmi PTQ Imam Syafi’i Oko-Oko menjadi satu-satunya mimbar untuk mengetuk nurani publik.
