JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM — Jaringan Advokasi Lingkungan–Pertambangan dan Anti Korupsi (JALAK) menyatakan keprihatinan mendalam terhadap meningkatnya laporan publik mengenai hilangnya jutaan hektare hutan Indonesia dalam dua dekade terakhir. Berbagai analisis lingkungan menunjukkan bahwa laju deforestasi kembali berada pada titik mengkhawatirkan dan menimbulkan dampak ekologis yang sangat besar.
Ketua Umum JALAK, Laode Iswar Anugrah, menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan sudah menjadi bagian dari krisis nasional.
“Hilangnya hutan Indonesia adalah ancaman langsung terhadap keselamatan ekologis bangsa. Negara wajib hadir, tidak boleh diam. Kami mendesak penegakan hukum yang tegas dan upaya nyata untuk menghentikan kerusakan hutan primer yang tersisa,” tegas Iswar.
Menurut pemantauan JALAK dan berbagai laporan publik, laju deforestasi terbesar dipicu pembukaan lahan berskala besar untuk perkebunan, aktivitas pertambangan, pembangunan infrastruktur, serta praktik perambahan ilegal. Bila tidak ditekan, Indonesia terancam menghadapi:
- meningkatnya risiko banjir dan longsor akibat berkurangnya tutupan hutan;
- krisis iklim karena kenaikan emisi karbon;
- kerugian ekonomi dan sosial yang masif;
- rusaknya sumber air dan ruang hidup masyarakat adat.







Komentar