François Bayrou Lengser dari Kursi PM Prancis Setelah Gagal Dapat Dukungan Parlemen

Internasional1178 Dilihat

Selain kebijakan penghematan yang tidak populer, reputasi Bayrou juga tergerus oleh kasus pelecehan di sekolah Katolik Bétharram, tempat ia pernah mengirim anak-anaknya dan istrinya mengajar. Laporan parlemen menudingnya gagal mencegah praktik kekerasan saat menjabat Menteri Pendidikan pada 1990-an. Komentar Bayrou yang menyebut penyelidikan tersebut sebagai “tribun politik” membuat sejumlah sekutunya sendiri memilih abstain dalam voting.

Kini, Macron dihadapkan pada dilema politik besar: menunjuk perdana menteri ketiga hanya dalam setahun, atau menghadapi tekanan oposisi untuk menggelar pemilu baru. Namun, dengan posisi sayap kanan yang unggul dalam survei, pemilu berisiko melahirkan parlemen buntu yang sama.

Sementara itu, Prancis diperkirakan menghadapi gelombang aksi protes pada Rabu (10/9) yang diorganisasi oleh gerakan daring Block Everything. Aksi tersebut berpotensi menutup jalan, sekolah, hingga layanan publik.

Prioritas utama Macron adalah memastikan anggaran 2026 dapat disahkan, tetapi siapa yang akan memimpin pemerintahan berikutnya masih menjadi tanda tanya.