Visioner Indonesia 45: Indonesia Harus Berani Bangun Indikator Pasar Modal Sendiri, Momentum Perkuat Kedaulatan Ekonomi

banner 468x60

Menurut perspektif Akril, pengembangan indikator sendiri akan semakin bermanfaat apabila melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia, akademisi, pelaku industri, investor, dan kalangan independen. Dengan demikian, sistem yang dibangun tidak hanya mewakili kepentingan regulator, tetapi juga menjawab kebutuhan seluruh pemangku kepentingan.

Gagasan tersebut juga dapat memperkuat kemandirian Indonesia dalam menentukan agenda pengembangan pasar modal. Indonesia tetap dapat menggunakan indeks internasional sebagai pembanding, tetapi tidak harus menjadikan satu lembaga global sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan bursa nasional.

banner 970x250

Meski demikian, Akril perlu menekankan bahwa indikator domestik dan klasifikasi MSCI memiliki fungsi berbeda. MSCI digunakan sebagai acuan oleh berbagai investor global, sehingga pembentukan standar nasional tidak otomatis menggantikan peran indeks tersebut atau mencegah perubahan klasifikasi Indonesia.

Karena itu, strategi terbaik adalah berjalan melalui dua jalur sekaligus: memperkuat sistem evaluasi nasional dan memperbaiki aspek-aspek yang menjadi perhatian investor internasional.

“Indonesia tidak perlu mempertentangkan kepentingan nasional dengan standar global. Kita dapat memiliki indikator sendiri sekaligus membuktikan bahwa pasar modal kita semakin transparan, kompetitif, dan layak dipercaya. Justru itulah kekuatan yang harus kita bangun,” tekannya.

Baca juga:  Ini Daftar 7 Orang Terkaya di Indonesia 2025 Versi Bloomberg

Akril memandang bahwa keberhasilan membangun indikator pasar modal sendiri harus diukur dari manfaat nyata yang dihasilkan. Standar tersebut harus mampu mendorong keterbukaan informasi, meningkatkan kualitas pengawasan, memperkuat perlindungan investor, dan menciptakan perdagangan yang adil.

Apabila dijalankan dengan metodologi yang terbuka dan evaluasi independen, indikator nasional dapat menjadi instrumen penting dalam memperkuat fondasi pasar modal Indonesia.

Akril menilai, momentum ini perlu dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi pemerintah, DPR, OJK, BEI, emiten, dan investor. Tujuannya bukan sekadar mempertahankan citra bursa, melainkan membangun pasar modal yang sehat dan mampu mendukung pembiayaan pembangunan nasional.

Pada akhirnya, Indonesia harus percaya diri menentukan arah pengembangan pasar modalnya sendiri. Dengan indikator yang kredibel, kebijakan yang konsisten, dan tata kelola yang kuat, Indonesia dapat memperbesar peran bursa nasional dalam perekonomian sekaligus meningkatkan daya tariknya di mata investor internasional.

banner 336x280

Komentar