Ketika Penangkapan Tak Cukup: Catatan Mantan Kepala BNN Marthinus Hukom

Berita19 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA,NUSANTARAVOICE.COM- Penggerebekan kampung narkoba kembali marak dalam dua pekan terakhir. Polri bersama Badan Narkotika Nasional mendatangi sejumlah kawasan, beberapa di antaranya bahkan lebih dari sekali. Namun laporan lapangan menunjukkan hal yang sama: peredaran kembali berjalan hanya berselang beberapa hari.

Marthinus Hukom, mantan Kepala BNN, menawarkan pembacaan yang layak dipertimbangkan, bahwa persoalan ini bukan soal kurangnya operasi, melainkan soal sistem yang tidak pernah diurai.

banner 970x250

Hukom tidak mengatakan aparat salah. Ia mengatakan penindakan tidak memadai. Dalam wawancara bersama Tirto.id, ia memaparkan tiga hubungan yang membuat permukiman rawan bertahan: simbiosis mutualisme antara warga dan pengendali jaringan, patron-klien yang menggeser peran tokoh masyarakat, serta pola inti-cangkang yang melindungi aktor utama melalui lapisan pedagang, pengecer, dan preman. Ketiganya membentuk satu ekosistem, bukan sekadar lokasi transaksi.

Dari kerangka itu, satu kesimpulan tampak jelas: selama intervensi negara berhenti pada penggerebekan, yang tersentuh hanya aspek fisik kejahatan. Hukom menyebut pengendali memiliki tingkatan besar, menengah, kecil, pengecer. Bila hanya lapisan terbawah yang ditangkap, aktor di atasnya merekrut warga lain yang berada dalam tekanan ekonomi. Siklus itu berulang, dan kawasan rawan berpindah, bukan hilang.

Baca juga:  La Ode Hasidar Tawarkan Transformasi HMI, Dorong Gerakan Intelektual dan Kemandirian Kader

Ketua Jaringan Aktivis Nusantara, Romadhon Jasn, menilai pandangan Hukom sebagai masukan berharga yang memperkaya cara pandang dalam memberantas narkotika, bukan sebagai koreksi, melainkan sebagai penegasan bahwa persoalan ini memang berlapis dan menuntut pendekatan yang sama berlapisnya.

“Kami melihat Polri dan BNN tidak berhenti pada penyitaan. Pemetaan jejaring, penelusuran aset, dan pemutusan sumber keuangan adalah kelanjutan yang tepat. Dengan begitu, penindakan terhadap kejahatan narkotika tidak berhenti pada satu lapisan, tetapi benar-benar memutus rantai kejahatan,” ujarnya di Jakarta, Senin (26/10/2026).

JAN mencatat langkah awal Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dan Kepala BNN yang mulai mendorong penelusuran aset serta penguatan koordinasi lintas lembaga. Harapan pada kepemimpinan saat ini disertai keinginan agar kemajuan diukur dari terputusnya aliran dana dan membaiknya kondisi sosial-ekonomi warga melampaui jumlah penggerebekan yang dilakukan.

banner 336x280

Komentar