JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM– Rangkaian aksi unjuk rasa pada 27 Agustus 2026 berlangsung relatif terkendali berkat sinergi aparat keamanan. Namun di balik kelancaran itu, Polri bertindak tegas terhadap oknum yang berusaha menunggangi aksi damai. Sebanyak 65 orang diamankan karena diduga sebagai provokator dan perusuh yang membawa barang berbahaya.
Pengamanan aksi di kawasan Gedung DPR/MPR dan sejumlah titik di Jakarta melibatkan 18.504 personel gabungan TNI-Polri dengan pendekatan humanis. Personel yang bertugas tidak dilengkapi senjata api maupun senjata tajam, mengedepankan komunikasi dan persuasi dalam mengelola massa. Pendekatan ini mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan, termasuk aktivis dan pengamat keamanan.
Analis politik senior Boni Hargens menilai keberhasilan ini tak lepas dari sinergi solid TNI-Polri dan BIN yang berhasil mencegah kejadian destruktif selama aksi. Menurutnya, kolaborasi lintas sektoral ini menjadi preseden penting dalam menjaga keamanan nasional. Sistem “Presisi” (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) yang digunakan Polri dinilai efektif memprediksi dan mencegah potensi gangguan sejak dini.
Meski pendekatan humanis diutamakan, Polri tetap bertindak tegas terhadap oknum perusuh yang berusaha memicu kericuhan. Tim Preventive Strike mengamankan 65 orang yang diduga kelompok anarko dan provokator. Barang bukti yang disita antara lain 201 botol molotov, senjata tajam, dan airsoft gun. Mereka diduga telah melakukan konsolidasi dan perencanaan panjang untuk menunggangi aksi damai mahasiswa.
“Tim Preventive Strike berhasil mengamankan mereka yang berusaha menciptakan kericuhan. Ini penting agar aksi damai mahasiswa tidak disusupi oleh pihak-pihak yang ingin menciptakan kekacauan,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto dalam keterangannya.
Aksi yang berlangsung hingga malam hari itu tetap terkendali berkat kesiapsiagaan aparat. Rekayasa lalu lintas dilakukan secara situasional dan masyarakat diimbau mengikuti arahan petugas. Tidak ada laporan bentrokan signifikan antara aparat dan peserta aksi sepanjang hari.
