Selain itu, panitia juga menyiapkan berbagai perlombaan dan kegiatan pendukung seperti festival layang-layang, tari kreasi, lagu daerah, permainan tradisional, fashion show, lomba fotografi, trail running, rangking satu, pidato bahasa Muna, jogging, rock climbing, hingga gowes wisata.
Salah satu agenda yang menjadi sorotan adalah kunjungan ke Gua Metanduno yang menyimpan lukisan purba telapak tangan yang diperkirakan berusia sekitar 67.800 tahun. Situs tersebut menjadi kebanggaan masyarakat Muna karena diyakini sebagai salah satu bukti penting peradaban manusia purba di dunia.
Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah menyatakan bahwa Festival Liangkobori memiliki nilai strategis dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya dan sejarah. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara memberikan perhatian khusus terhadap penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Sementara itu, keterlibatan Bank Indonesia diharapkan mampu mendorong penguatan ekonomi kreatif masyarakat melalui promosi produk UMKM, kuliner lokal, dan berbagai potensi ekonomi yang berkembang di sekitar kawasan wisata Liangkobori.
Dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, pelaku budaya, dan masyarakat, Festival Liangkobori 2026 diharapkan menjadi salah satu festival budaya terbesar di Sulawesi Tenggara serta mampu meningkatkan kunjungan wisatawan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.










Komentar