Dari Papua ke G20, Gibran Gaungkan AI Beretika untuk Indonesia Maju

Berita9 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM- Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ajak mengangkat isu kecerdasan buatan (AI) dalam setiap kesempatan, dari kunjungan ke pelosok Papua hingga panggung global G20. Narasi yang ia bangun bukan sekadar soal teknologi, melainkan keadilan, etika, dan pemerataan manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. Pendekatan ini mencerminkan visi kepemimpinan yang membumi sekaligus berwawasan global.

Di KTT G20 Johannesburg, Gibran menyuarakan keprihatinan atas ketimpangan digital. Ia menegaskan bahwa AI akan menentukan arah ekonomi global dalam beberapa dekade mendatang, namun manfaatnya masih terkonsentrasi di segelintir perusahaan dan negara maju. “Kita tidak bisa lagi menjadi penonton di era AI. Kita harus menjadi pemain, bahkan penguasa teknologi,” tegas Gibran. “Revolusi ini harus adil dan harus bermanfaat bagi rakyat. G20 harus memastikan bahwa AI menjadi kekuatan untuk inklusi,” ujarnya dalam pidato di hadapan kepala negara G20.

banner 970x250

Indonesia, kata Gibran, memilih jalur berbeda melalui hilirisasi dan pembangunan industri dalam negeri, agar kekayaan alam tidak hanya diekspor mentah-mentah tetapi memberi nilai tambah bagi rakyat. “Ini bukan tentang menutup pintu. Ini tentang membuka kemitraan yang adil, menghubungkan investasi, transfer teknologi, dan praktik yang bertanggung jawab,” tegasnya.

Baca juga:  Pergi Sendiri, Tapi Tetap Warga Negara: Saat Empati Harus Lebih Dulu dari Regulasi

Di dalam negeri, Gibran membawa semangat yang sama ke Papua dan daerah 3T. Ia mendorong penguatan sarana teknologi pendidikan seperti Papan Interaktif Digital (PID) di sekolah-sekolah terpencil. “Kita ingin memastikan program pendidikan menyentuh area-area yang selama ini sulit dijangkau. Digitalisasi harus bisa dioperasikan dan dimanfaatkan secara maksimal oleh guru dan siswa di wilayah 3T,” ujarnya. Gibran menyebut kolaborasi dengan Microsoft telah menjangkau 15.000 peserta dari 1.300 madrasah dan pesantren, dengan target 50.000 peserta ke depan.

Romadhon Jasn dari Rumah Kreasi Indonesia Hebat (RKIH) Muda, menilai konsistensi Gibran mengangkat isu AI menunjukkan kedewasaan politik yang patut diapresiasi. Menurutnya, Gibran berhasil menjembatani dua dunia: kepemimpinan yang merakyat melalui blusukan di desa, sekaligus kepemimpinan yang visioner dengan merangkul isu teknologi masa depan. “Ini bukan sekadar gimik. Gibran membangun citra sebagai pemimpin yang tidak hanya dekat dengan rakyat, tapi juga memahami arah zaman,” ujar Romadhon kepada awak media, Senin (22/6/2026).

banner 336x280

Komentar