Dari Papua ke G20, Gibran Gaungkan AI Beretika untuk Indonesia Maju

Berita5 Dilihat
banner 468x60

Gibran juga konsisten mengingatkan soal etika. Di berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa AI harus menjadi alat kreativitas, bukan plagiarisme atau penyebaran hoaks. “Teknologi tanpa etika itu berbahaya. AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoaks, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi orang lain,” tegasnya dalam unggahan media sosial.

Ia mengibaratkan AI sebagai “asisten pribadi” untuk mempercepat belajar, mencari data, atau memahami rumus matematika. Namun, ia mengingatkan agar siswa tidak ketergantungan: “PR jangan hanya mengandalkan AI, tetap harus dicari dan dipahami sendiri jawabannya. Berpikir kritis jangan sampai hilang.”

banner 970x250

Meski demikian, sejumlah pengamat menyoroti kesenjangan infrastruktur digital yang masih menjadi tantangan utama, terutama di Papua dan daerah 3T. Akses internet yang terbatas dan minimnya perangkat pendukung dinilai bisa menghambat implementasi visi AI yang digaungkan Gibran. Pemerintah telah menyelesaikan Readiness Assessment Methodology UNESCO untuk mengukur kesiapan tata kelola AI nasional. Gibran juga menyoroti dampak lingkungan dari pusat data dan industri semikonduktor, menekankan pentingnya keseimbangan antara transformasi digital dan keberlanjutan lingkungan.

Romadhon menilai langkah serius ini menunjukkan pemerintah tidak setengah hati. “Ini bukan sekadar wacana, tapi sudah masuk tahap implementasi yang terukur. Pemerintah serius membangun ekosistem digital yang bertanggung jawab,” katanya.

Baca juga:  Sultra Siap Jadi Tuan Rumah Rakornas Produk Hukum Daerah 2025

Romadhon menambahkan bahwa langkah Gibran membawa isu AI hingga ke G20 menunjukkan keberanian politik yang langka. “Ia tidak hanya berbicara teknologi, tetapi juga keadilan global. Ini pesan yang kuat: Indonesia tidak ingin jadi penonton, tapi pemain di era AI,” terang Romadhon.

Dari Papua hingga G20, narasi AI Gibran memiliki benang merah: teknologi harus memihak rakyat kecil, bukan hanya elite global. “Kuasai teknologinya, pegang teguh etikanya. Mari kita jadikan AI sebagai jembatan menuju Indonesia yang lebih maju, lebih cerdas, dan lebih bermartabat,” tuturnya.

banner 336x280

Komentar