JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM – Sekretaris Jenderal Visioner Indonesia, Akril Abdillah memberikan pembelaan terhadap polemik yang berkembang terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pembukaan Munas HIPMI yang mengaitkan angka 10 dan 6 dengan angka 17 sebelum direduksi menjadi angka 8.
Menurut Sekjen Visioner Indonesia, pernyataan Presiden tidak dapat dinilai menggunakan pendekatan matematika murni karena konteks yang digunakan adalah simbolisme angka atau numerologi yang lazim digunakan dalam berbagai tradisi dan budaya di dunia.
“Sebagian pihak menilai pernyataan tersebut sebagai kesalahan hitung matematika. Padahal jika dicermati secara utuh, Presiden sedang berbicara mengenai simbol dan makna angka. Itu lebih dekat kepada pendekatan numerologi daripada perhitungan matematika formal,” ujarnya, Jum’at, 12/6/2026.
Ia menjelaskan bahwa dalam numerologi terdapat berbagai pendekatan interpretatif yang memandang angka sebagai simbol energi dan karakter tertentu. Angka 10 misalnya sering dimaknai sebagai lambang awal baru, kepemimpinan, dan potensi besar, sementara angka 6 melambangkan tanggung jawab, harmoni, kepedulian, dan pengabdian.
“Dalam beberapa pendekatan numerologi, kombinasi energi angka 10 dan 6 dapat ditafsirkan menghasilkan angka 17 yang kemudian direduksi menjadi angka 8. Angka 17/8 sendiri sering dikaitkan dengan kepemimpinan yang bertanggung jawab, kemampuan membangun kesuksesan jangka panjang, keseimbangan antara ambisi dan kepedulian sosial, serta keberhasilan yang dicapai melalui kerja keras dan integritas,” jelasnya.















Komentar