Pada titik inilah persoalannya menjadi lintas sektor.
Penguatan rupiah tidak cukup hanya mengandalkan BI. Pemerintah perlu memperkuat struktur ekonomi melalui kebijakan industri, hilirisasi yang produktif, peningkatan ekspor bernilai tambah, penguatan ketahanan pangan dan energi, serta menjaga disiplin fiskal agar tetap kredibel di mata pasar. Koordinasi fiskal dan moneter menjadi kata kunci.
Maka, meminta Gubernur BI mundur seolah seluruh masalah selesai setelah pergantian figur, justru menunjukkan pemahaman yang kurang utuh terhadap cara kerja kebijakan moneter.
Kritik terhadap BI tentu sah dalam negara demokrasi. Bahkan diperlukan agar kebijakan publik tetap akuntabel. Namun kritik seharusnya dibangun di atas pemahaman yang komprehensif, bukan sekadar respons emosional terhadap gejolak pasar yang memang sedang terjadi secara global.
Alih-alih mencari kambing hitam, akan jauh lebih produktif jika para pengambil kebijakan, termasuk anggota DPR, mendorong penguatan koordinasi antara pemerintah dan BI untuk memperbaiki fundamental ekonomi nasional.
Karena pada akhirnya, menjaga rupiah bukan tugas satu orang, bukan pula satu lembaga. Ini adalah pekerjaan bersama.
Dan mungkin, sebelum meminta seseorang mundur, ada baiknya kita terlebih dahulu memahami medan persoalan yang sedang dihadapi.
Bahkan dalam konteks ini, para politisi juga perlu memahami bahwa kebijakan moneter tidak bekerja seperti membalik telapak tangan. Ada mekanisme transmisi, jeda waktu (time lag), dan kalkulasi risiko yang kompleks. Mengomentari kebijakan BI tanpa memahami dinamika pasar uang, arus modal global, maupun mekanisme stabilisasi nilai tukar justru dapat menciptakan persepsi negatif tambahan di pasar.
Pasar keuangan sangat sensitif terhadap sinyal politik. Pernyataan yang terkesan menyudutkan independensi bank sentral tanpa dasar analisis yang kuat justru berpotensi memperburuk sentimen investor terhadap Indonesia. Padahal, kepercayaan (confidence) adalah salah satu modal utama menjaga stabilitas ekonomi.
Karena itu, kebijaksanaan dalam membaca situasi jauh lebih dibutuhkan dibanding sekadar mencari pihak yang harus disalahkan. Rupiah tidak membutuhkan kegaduhan politik. Rupiah membutuhkan stabilitas, koordinasi kebijakan, dan kepercayaan bahwa negara hadir dengan strategi yang jelas menghadapi tekanan ekonomi global.
Mengkritik boleh, tetapi memahami jauh lebih penting.










Komentar