Meluruskan Narasi “Orang Desa Enggak Pakai Dolar”, Menjaga Optimisme di Tengah Gejolak Global

Berita19 Dilihat

JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM- Pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, memicu perdebatan hangat di ruang publik. Potongan video yang beredar di media sosial mengenai kalimat “orang desa tidak pakai dolar” memicu gelombang sentimen negatif. Padahal, jika dicermati dalam konteks yang utuh, esensi pidato kepala negara tersebut adalah sebuah upaya taktis untuk menenangkan psikologi pasar dan masyarakat bawah di tengah tekanan ekonomi global.

Sebagai pemimpin, Presiden memahami betul bahwa kepanikan massal justru akan memperburuk situasi domestik ketika nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar AS. Saat berbicara di depan para petani dan pengurus koperasi, fokus utama Presiden adalah memastikan bahwa aktivitas ekonomi riil di tingkat tapak harus tetap berjalan tanpa dihantui ketakutan yang berlebihan. Transaksi harian di pasar tradisional menggunakan rupiah untuk kebutuhan pokok adalah fondasi ketahanan ekonomi yang sesungguhnya.

​”Presiden sedang berpidato di depan rakyat desa dan koperasi desa untuk menenangkan masyarakat bawah yang sehari-hari bertransaksi pakai rupiah, bukan pakai dolar. Pesannya sederhana: jangan panik berlebihan soal kurs, karena prioritas pemerintah adalah menjaga ketersediaan pangan dan energi agar harga kebutuhan pokok tetap terkendali,” ujar Romadhon Jasn, Ketua Jaringan Aktivis Nusantara saat merespon perdebatan di medsos, Minggu (17/5).

Penjelasan ini krusial untuk menghentikan simplifikasi keliru yang mengesankan pemerintah tidak memahami dampak makro dari pelemahan kurs. Memang tidak bisa dimungkiri bahwa depresiasi rupiah memiliki efek domino terhadap komoditas impor seperti kedelai, gandum, maupun bahan baku industri. Namun, fokus pemerintah hari ini tidak sekadar meratapi fluktuasi angka, melainkan mengeksekusi mitigasi konkret dari hulu ke hilir.

​”Pemerintah justru sedang mendorong solusi jangka panjang, mulai dari percepatan hilirisasi, swasembada pangan, hingga penguatan produksi dalam negeri. Langkah nyata itu diwujudkan lewat pembangunan 1.061 unit koperasi desa yang baru saja diresmikan, serta penguatan program Makan Bergizi Gratis agar daya beli rakyat kecil tetap terlindungi,” kata Romadhon menjelaskan strategi pemerintah.