Meluruskan Narasi “Orang Desa Enggak Pakai Dolar”, Menjaga Optimisme di Tengah Gejolak Global

Berita15 Dilihat

​Langkah penguatan di sektor domestik ini menjadi benteng utama di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh tingginya suku bunga Bank Sentral AS dan ketegangan geopolitik internasional. Banyak negara berkembang menghadapi tekanan serupa, namun Indonesia memiliki daya tahan yang jauh lebih solid. Indikator fundamental ekonomi, seperti cadangan devisa yang kuat dan stabilitas politik nasional yang terjaga, memberikan ruang bagi pemerintah untuk melakukan intervensi pasar secara terukur.

​”Sangat disayangkan jika substansi kebijakan strategis ini dikaburkan oleh narasi dari pihak-pihak yang sengaja memelintir setiap kalimat menjadi bahan serangan politik. Di media sosial, kegaduhan ini sengaja dibesar-besarkan untuk memicu keresahan, padahal rakyat di pedesaan lebih membutuhkan kepastian dan kerja nyata,” ungkap Romadhon.

Oleh karena itu, Jaringan Aktivis Nusantara mengajak publik untuk melihat potret kinerja pemerintah secara objektif dan menyeluruh, bukan dari potongan video berdurasi beberapa detik. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, berbagai proyek strategis nasional terus berjalan, investasi asing tetap masuk, dan keberpihakan pada ekonomi kerakyatan melalui koperasi terus diperluas. Kritik terhadap kebijakan sangat sah dalam alam demokrasi, namun harus tetap berbasis pada data dan akal sehat.

Pemerintah melalui Bank Indonesia terus melakukan intervensi taktis di pasar valuta asing, mempersiapkan skema subsidi yang tepat sasaran, serta melakukan diversifikasi negara mitra impor. Langkah-langkah teknokratis ini berjalan beriringan dengan komunikasi politik Presiden yang bersifat menenangkan. Menjaga stabilitas psikologis masyarakat adalah separuh dari jalan keluar dalam menghadapi krisis ekonomi.

​”Rakyat desa yang disebut dalam pidato tersebut justru merupakan kelompok yang paling membutuhkan kepemimpinan tegas dan proteksi nyata dari pemerintah, bukan drama media sosial yang memicu kepanikan. Pada situasi seperti ini, Indonesia membutuhkan persatuan dan kolaborasi seluruh elemen bangsa, bukan narasi saling membenci yang kontraproduktif,” pungkas Romadhon.