Akril juga menyoroti capaian Bank Sultra di bawah kepemimpinan Andri Permana Diputra Abubakar yang belum genap satu tahun menjabat. Menurutnya, sejumlah prestasi yang berhasil diraih menjadi bukti bahwa manajemen saat ini tetap mampu menjaga performa dan daya saing bank daerah.
Salah satu capaian penting tersebut adalah diraihnya sertifikasi ISO internasional sebagai bentuk penguatan tata kelola dan standar operasional perbankan yang sesuai dengan standar global.
Selain itu, Bank Sultra juga berhasil meraih penghargaan BPD Berkinerja “Sangat Baik Tahun 2025” kategori KBMI 1. Penghargaan tersebut dinilai menjadi indikator bahwa Bank Sultra tetap berada dalam kondisi sehat, kompetitif, dan mampu menjaga kualitas kinerja perusahaan di tengah persaingan industri jasa keuangan nasional.
“Penghargaan itu tentu tidak diberikan tanpa indikator yang jelas. Ada aspek kesehatan bank, tata kelola, pelayanan, efisiensi, dan kemampuan menjaga pertumbuhan bisnis yang menjadi dasar penilaian,” kata Akril.
Ia juga menilai kepemimpinan Andri Permana menunjukkan komitmen dalam memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui pembiayaan pembangunan yang lebih terukur dan produktif.
Menurutnya, peran bank pembangunan daerah tidak hanya dilihat dari sisi profit semata, tetapi juga kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi dan penguatan sektor produktif di daerah.
Akril turut menegaskan bahwa capaian Bank Sultra pada periode sebelumnya, termasuk penghargaan Platinum Trophy, tetap merupakan bagian penting dari perjalanan institusi yang harus dihormati bersama. Namun, hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengabaikan capaian dan kerja manajemen saat ini.
“Setiap kepemimpinan memiliki tantangan dan kontribusinya masing-masing. Kita menghargai capaian pimpinan sebelumnya, tetapi kita juga harus objektif melihat bahwa direksi saat ini mampu menjaga bahkan meningkatkan reputasi Bank Sultra,” ujarnya.
Di akhir keterangannya, Akril mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mendukung penguatan Bank Sultra agar semakin profesional, kompetitif, dan mampu menjadi motor penggerak ekonomi daerah di Sulawesi Tenggara.
“Yang dibutuhkan hari ini adalah semangat membangun. Kritik harus menjadi energi evaluasi dan perbaikan, bukan sekadar polemik yang dapat melemahkan kepercayaan publik terhadap lembaga keuangan daerah,” tutupnya.
