AS Desak Negara Sekutu Kawal Tanker di Selat Hormuz, Dinilai Tunjukkan Minimnya Strategi Hadapi Iran

Jawa Barat8 Dilihat

AMERIKA, NUSANTARAVOICE.COM- Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Donald Trump mendesak sejumlah negara sekutu seperti Inggris, China, Prancis, dan Jepang untuk ikut serta dalam misi pengawalan kapal tanker minyak di Selat Hormuz.

Permintaan tersebut muncul di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, yang dinilai belum diantisipasi secara matang oleh Gedung Putih. Sejumlah pengamat menilai, absennya strategi komprehensif Washington terhadap respons Iran kini mulai terlihat jelas.

Iran sendiri disebut memilih strategi balasan asimetris dengan menargetkan pangkalan militer AS, sekutu regional, serta kapal dagang di kawasan Teluk. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan biaya konflik bagi negara-negara Barat tanpa harus terlibat dalam perang konvensional secara langsung.

Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, bahkan dilaporkan telah mempersiapkan skenario suksesi berlapis, mengantisipasi kemungkinan terburuk dalam konflik berkepanjangan.

Dalam dua pekan terakhir, serangan udara AS difokuskan pada instalasi angkatan laut dan situs rudal Iran. Namun, strategi ini belum mampu meredam ancaman terhadap jalur pelayaran komersial. Sedikitnya 16 kapal dilaporkan telah diserang, membuat banyak perusahaan pelayaran enggan melintasi Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi energi global.

Sebelumnya, Trump juga sempat meminta perusahaan tanker untuk tetap melintas dan “menunjukkan keberanian”, meskipun Angkatan Laut AS belum memberikan jaminan pengawalan penuh. Analis militer menilai, AS lebih memilih menyerang dari jarak aman menggunakan kapal induk seperti USS Abraham Lincoln yang beroperasi di lepas pantai Oman.