AS Desak Negara Sekutu Kawal Tanker di Selat Hormuz, Dinilai Tunjukkan Minimnya Strategi Hadapi Iran

Jawa Barat5 Dilihat

Untuk menjalankan operasi pengawalan secara efektif, dibutuhkan sekitar 8 hingga 10 kapal perusak. Namun jumlah tersebut hanya mampu mengamankan sebagian kecil, sekitar 10 persen, dari volume pelayaran sebelum konflik.

Respons internasional terhadap seruan AS pun terbilang dingin. Jepang menyatakan belum menerima permintaan resmi, sementara China belum memberikan tanggapan. Hal ini berpotensi memengaruhi hubungan diplomatik, termasuk rencana kunjungan Trump ke Beijing.

Di sisi lain, Trump juga menekan negara-negara anggota NATO agar turut ambil bagian dalam operasi tersebut. Ia bahkan memperingatkan akan adanya “masa depan yang buruk” bagi aliansi jika tidak memberikan dukungan.

Namun, langkah tersebut menuai kritik karena NATO secara geografis dan mandat lebih berfokus pada kawasan Eropa dan Amerika Utara, bukan Timur Tengah.

Sementara itu, Prancis telah mengirimkan delapan kapal perang ke Mediterania timur, tetapi belum bersedia masuk ke Selat Hormuz hingga situasi mereda. Inggris juga menghadapi kendala kesiapan armada, bahkan harus mempercepat pengerahan HMS Dragon dari galangan perbaikan menuju kawasan operasi.

Situasi ini memperlihatkan kompleksitas geopolitik yang semakin dalam, sekaligus menegaskan tantangan besar dalam menjaga stabilitas jalur energi global di tengah konflik bersenjata yang terus berkembang.