Program MBG Jangkau 61,2 Juta Penerima, Dampaknya Terasa hingga Akar Rumput

Berita74 Dilihat
banner 468x60

KAYU AGUNG, NUSANTARAVOICE.COM – Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau 61.239.037 penerima manfaat per awal Maret 2026, mencakup anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui di 38 provinsi. Angka ini didukung operasional 24.443 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah menyentuh wilayah pelosok dan terpencil. Pemerintah menargetkan ekspansi hingga 82,9 juta penerima manfaat pada akhir 2026, dengan penambahan SPPG hingga 32.000 unit untuk mempercepat pemerataan akses gizi nasional.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan kegembiraannya atas antusiasme masyarakat dan senyum anak-anak yang mulai merasakan perbaikan nutrisi secara konsisten. MBG ditegaskan bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi strategis jangka panjang untuk menekan prevalensi stunting yang kini berada di bawah 20 persen, tepatnya 19,8 persen berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Laporan lapangan menunjukkan korelasi positif antara asupan gizi rutin dengan peningkatan kehadiran siswa serta keceriaan di ruang kelas.

Kisah inspiratif muncul dari Lebak Permai, Kayu Agung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, di mana seorang ibu bernama Merianti merasakan dampak langsung bagi kedua anaknya. Sebagai keluarga dengan pendapatan tidak menentu dari kerja serabutan, kehadiran MBG menjadi penyelamat gizi di tengah keterbatasan ekonomi. Setelah rutin menerima paket dari Posyandu Teratai 2, kondisi kesehatan dan berat badan anak-anaknya yang tinggal di rumah panggung tepi rawa meningkat signifikan.

Baca juga:  MAR Sambangi KPK, Follow Up Laporan Dugaan Korupsi Bupati Busel

“Kisah Merianti di tepi rawa OKI adalah bukti tak terbantahkan bahwa MBG adalah denyut nadi baru bagi kedaulatan gizi rakyat kecil. Program ini bukan janji di atas kertas, melainkan aksi nyata yang mengisi piring anak-anak kita dengan protein berkualitas saat ekonomi keluarga sedang terhimpit. Kita melihat lahirnya keadilan sosial yang dimulai dari meja makan, di mana negara hadir memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang tumbuh besar hanya dengan asupan nasi dan garam,” ujar Aktivis Nusantara Romadhon Jasn di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).

BGN memastikan standar keamanan pangan tetap menjadi prioritas tertinggi melalui penguatan Prosedur Operasional Standar (SOP) di setiap titik distribusi. Meskipun menghadapi tantangan teknis awal, pemerintah bergerak cepat melakukan audit, klarifikasi berbasis uji laboratorium, hingga penghentian sementara operasional dapur bermasalah. Transparansi ini menjaga kepercayaan publik yang kini berada pada tingkat optimisme tinggi terhadap keberlanjutan program nasional ini.

banner 336x280

Komentar