Kedua, kegiatan ini menjadi media diplomasi budaya yang memperlihatkan kemampuan produk budaya lokal Sulawesi Tenggara untuk bertransformasi menjadi karya busana modern, elegan, dan bernilai ekonomi tinggi.
Ketiga, Kendari Culture 2026 dirancang agar relevan dengan selera Generasi Z, sehingga wastra tenun tidak hanya dilihat sebagai warisan tradisional, tetapi juga sebagai identitas yang membanggakan dan fashionable.
“Kita ingin generasi muda mengenakan tenun daerah karena bangga dan percaya diri, bukan sekadar kewajiban. Budaya harus hidup dan mengikuti zamannya,” tambahnya.
Kendari Culture 2026 merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Kendari, AMINEF, dan Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia (APPMI) Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Direktur Kerja Sama Internasional UM Kendari, perwakilan AMINEF dan APPMI Sultra, serta peserta, mahasiswa, dan undangan lainnya.
Melalui Kendari Culture 2026, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berharap pengembangan budaya dan ekonomi kreatif dapat berjalan seiring, sekaligus membuka peluang baru bagi generasi muda untuk berperan aktif dalam memajukan daerah melalui jalur seni dan budaya.







Komentar