JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM- Klarifikasi Arief Rosyid atas pernyataannya yang memicu polemik luas di ruang publik justru membuka persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar salah ucap. Alih-alih melakukan refleksi etis yang jujur, klarifikasi tersebut dibangun di atas asumsi bermasalah bahwa publiklah yang belum memahami konteks. Dalih ini bukan sekadar pembelaan diri, melainkan penyangkalan moral yang menempatkan masyarakat sebagai pihak yang harus memaklumi kesalahan aktor di lingkar elite kekuasaan.
Logika semacam ini menandai pergeseran berbahaya dalam etika berpolitik di awal 2026. Ketika pembelaan “benar atau salah” dinormalisasi atas nama solidaritas organisasi, loyalitas dipaksa berdiri di atas puing-puing nalar. Solidaritas tidak lagi dimaknai sebagai keberanian menjaga nilai, melainkan direduksi menjadi kepatuhan membuta yang artifisial sebuah pola kaderisasi yang melatih pembenaran, bukan integritas.
Pernyataan membela pemimpin ‘benar atau salah’ adalah lonceng kematian bagi akal sehat organisasi politik; itu bukan lagi solidaritas, melainkan pengabdian buta yang mematikan mekanisme koreksi internal yang demokratis. “Pernyataan ini menempatkan polemik tersebut dalam konteks krisis etik yang lebih luas di tubuh kaderisasi politik, makanya kita perlu ingatkan ini sangat berbahaya jika dibiarkan,” terang Romadhon Jasn, Aktivis Nusantara, Senin (5/1/2025) di Jakarta.
Bagi generasi muda yang terlibat aktif dalam dinamika organisasi, sikap pembelaan irasional semacam ini dapat dibaca sebagai bentuk “bunuh diri kelas” intelektual. Alih-alih menjaga marwah pimpinan dan institusi, narasi tersebut justru menimbulkan efek bola salju yang merusak reputasi partai. Ketika kritik publik selalu dibalas dengan tuduhan salah paham, politik berubah menjadi ruang eksklusif yang kebal koreksi.
Terkait hal ini, Romadhon Jasn kembali mengingatkan bahwa “kader seharusnya menjadi penjaga nilai, bukan sekadar tameng kesalahan; saat kader lebih sibuk melindungi kekeliruan pimpinan daripada menyuarakan kebenaran, di situlah politik kehilangan fungsi pendidikannya.” Peringatan ini relevan bagi masa depan kepemimpinan nasional yang bertumpu pada kualitas etika generasi penerus.







Komentar