“Kemandirian adalah roh Pramuka. Melalui unit pengelolaan sampah yang produktif, Pramuka bisa membiayai kegiatan organisasi sekaligus menjadi laboratorium kewirausahaan bagi anggota didik,” tegasnya.
Asrun Lio juga mendorong peserta workshop untuk tidak berhenti pada tataran konsep. Ia berharap setiap peserta mampu menyusun rencana aksi konkret yang dapat segera diterapkan di gugus depan, kwartir cabang, hingga tingkat daerah.
Kolaborasi lintas unsur Pramuka serta dukungan pemangku kepentingan dinilai menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan program pengelolaan sampah tersebut.
Menutup sambutannya, Asrun Lio menyampaikan pesan kepedulian lingkungan melalui pantun yang disambut antusias peserta, sebagai simbol pendekatan edukatif khas kepramukaan dalam menyampaikan nilai-nilai luhur.
Workshop ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi di lingkungan Gerakan Pramuka Sulawesi Tenggara, sekaligus mempertegas peran Pramuka sebagai agen perubahan, pelopor kepedulian lingkungan, dan motor kemandirian organisasi.
Kegiatan tersebut diikuti oleh jajaran pimpinan dan andalan Kwarda Sultra, perwakilan Kwartir Cabang se-Sulawesi Tenggara yang mengikuti secara daring, unsur Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sultra, serta pembina dan pengelola gugus depan.







Komentar