Masyarakat Paya Pasi mengaku sangat terharu dengan kehadiran sosok pimpinan Koramil yang begitu rendah hati ini. Di mata warga, Kapten Arh Syafari bukan hanya seorang komandan, melainkan sosok pahlawan yang hadir di saat paling gelap. “Terima kasih banyak, TNI benar-benar ada di hati kami. Kapten Syafari adalah yang terbaik, beliau menjaga anak-anak kami seperti menjaga anaknya sendiri,” ungkap salah seorang wali santri dengan penuh haru.
Kedekatan emosional ini membuktikan bahwa slogan “TNI Kuat Bersama Rakyat” bukan sekadar kalimat di atas kertas. Di pelosok Aceh Timur, dedikasi Kapten Syafari telah memenangkan simpati mendalam dari masyarakat yang selama ini haus akan sosok pelindung yang nyata. Ketulusannya merangkul ulama dan santri di masa sulit menjadi perekat yang menguatkan kembali ikatan kasih sayang antara tentara dan warga sipil.
Kini, Minggu (21/12/2025), kondisi di Dayah Bustanul Huda mulai berangsur pulih dan kegiatan pengajian rutin telah kembali dimulai. Kapten Syafari tetap memantau perkembangan situasi, memastikan bantuan logistik tetap mengalir bagi para santri yang terdampak. Baginya, tugas seorang prajurit belum usai selama masih ada rintihan warga yang membutuhkan pertolongan di wilayah tugasnya.
Kisah dari Paya Pasi ini menjadi pengingat bahwa kepahlawanan sejati tidak selalu lahir dari publikasi yang megah. Ia lahir dari keberanian seorang pemimpin yang mau turun langsung ke lumpur, bertaruh nyawa di tengah banjir, dan menjemput air ke kota lain demi rakyatnya. Kapten Arh Syafari telah membuktikan bahwa di bawah baret hijaunya, ada hati yang berdegup kencang demi keselamatan rakyat Aceh.
