Anak, Sekolah, dan Dunia Maya: Ledakan yang Bisa Dicegah

Berita63 Dilihat

JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM- Ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta bukan hanya dentuman yang melukai tubuh, tapi juga mengetuk nurani bangsa. Tragedi yang melibatkan siswa sekolah sendiri itu mengingatkan kita pada satu hal yang lebih dalam dari sekadar kriminalitas: ada anak yang merasa tak didengar, ada sistem yang gagal membaca tanda-tanda sunyi.

Polisi masih menelusuri motif pelaku, sementara dugaan mengarah pada tekanan sosial dan perundungan di lingkungan sekolah. Bila benar, maka ledakan ini bukan sekadar kejahatan, melainkan puncak dari luka yang dibiarkan membesar tanpa solusi. Di ruang yang seharusnya aman dan mendidik, seorang remaja bisa merasa terisolasi hingga kehilangan arah.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menduga pelaku terpengaruh oleh konten berbahaya di media sosial—mulai dari video eksperimen hingga narasi ekstrem yang mudah diakses. Dunia maya, yang seharusnya menjadi ruang belajar dan kreativitas, perlahan berubah menjadi labirin pengaruh tanpa pengawasan. Anak-anak belajar banyak hal dari layar, tapi tidak semua yang mereka pelajari membawa makna baik.

“Sekolah tidak boleh hanya menjadi ruang belajar, tapi ruang mendengar,” kata Romadhon Jasn, Pemerhati Sosial, di Jakarta, Sabtu (8/11). Ia menilai, pendidikan kita sering kali terjebak dalam teknokrasi, lupa bahwa anak-anak bukan objek kebijakan, melainkan manusia yang sedang tumbuh mencari tempatnya di dunia. “Kita sibuk membenahi kurikulum, tapi sering lalai membenahi hati,” ujarnya.

Baca juga:  Surat Penetapan Abal-abal Oknum PPKD Masalili Terkuak, Dokumen Tanpa Nomor dan Pleno Dipersoalkan

KPAI menekankan pentingnya penguatan literasi digital di sekolah. Sebab, anak-anak kini belajar lebih banyak dari algoritma ketimbang guru. Jika ruang maya menjadi guru tanpa moral, maka sekolah harus menjadi benteng nalar dan empati. Bukan hanya tugas guru informatika, tapi tanggung jawab moral seluruh elemen pendidikan.

Komentar