Anak, Sekolah, dan Dunia Maya: Ledakan yang Bisa Dicegah

Berita158 Dilihat

Setiap anak yang merasa sendirian di tengah keramaian adalah tanda sistem gagal. “Sekolah harus kembali menjadi rumah sosial, bukan sekadar tempat akademik, tapi pentingnya mekanisme pengaduan bullying, pendampingan psikologis, dan pendidikan digital yang menanamkan kesadaran risiko konten ekstrem, “ujar Romadhon Jasn.

Namun tanggung jawab itu tak berhenti di sekolah. BNPT, BIN, dan Densus 88 perlu meninjau ulang cara mereka membangun ketahanan sosial di lingkungan pendidikan. Program deradikalisasi dan literasi kebangsaan tak cukup hanya berupa seminar atau spanduk tahunan. Diperlukan pendekatan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan hadir bukan untuk mengawasi, tapi untuk mendampingi.

Pencegahan ekstremisme di kalangan pelajar bukan tentang ceramah, tapi tentang empati yang hadir setiap hari, negara dan masyarakat harus belajar dari tragedi ini, bukan sekadar berduka. “Ledakan seperti ini seharusnya tidak terjadi bila semua pihak mau mendengar lebih awal, “pungkas Romadhon.

Tragedi di SMA 72 adalah peringatan keras: bahwa membangun bangsa tidak cukup dengan menambah sekolah, tetapi dengan memastikan sekolah menjadi tempat yang aman bagi jiwa. Dunia maya mungkin tak bisa dibungkam, tapi bisa ditandingi dengan kepedulian nyata. Karena anak-anak tidak butuh pengawasan ketat, mereka hanya butuh didengarkan sebelum terlambat.