Meski demikian, sejumlah catatan perlu menjadi perhatian. Distribusi LPG 3 kilogram masih belum merata di sebagian daerah timur, sementara realisasi energi hijau baru menjangkau skala uji coba. Beberapa proyek hilirisasi gas dan batu bara juga menghadapi kendala pembiayaan dan infrastruktur. Para pengamat menilai, tantangan utama tahun kedua pemerintahan ini adalah mempercepat konversi ke energi terbarukan tanpa mengganggu stabilitas pasokan konvensional.
Dari sisi fiskal, stabilitas anggaran energi tetap terjaga. Pemerintah mampu menekan defisit di bawah tiga persen dan mempertahankan nilai tukar rupiah di kisaran stabil. Kebijakan anggaran yang berhati-hati ini menjadi penopang penting bagi keberlanjutan program energi dan subsidi publik. “Keseimbangan antara neraca dan nurani adalah kunci menuju kemandirian energi yang berkeadilan,” kata Romadhon Jasn.
Bagi Pertamina, tugas ke depan bukan hanya menjaga pasokan, tetapi juga mengawal transformasi. Tantangan digitalisasi rantai pasok, efisiensi operasional, dan percepatan energi bersih akan menentukan seberapa mandiri Indonesia dalam arti sebenarnya. Pemerintah pun didorong memperkuat kemitraan dengan swasta dan daerah agar program transisi berjalan merata di seluruh provinsi.
Meski banyak kemajuan, pertanyaan soal “kemandirian sejati” memang belum bisa dijawab sepenuhnya. Namun, setahun perjalanan energi di bawah Prabowo–Gibran memperlihatkan fondasi yang kokoh dan arah yang konsisten. “Mandiri bukan berarti berhenti memperbaiki, tapi terus berani berubah untuk masa depan,” tutup Romadhon Jasn.







Komentar