Hampir 1,2 Ton Narkotika Terungkap di Aceh, Ujian Berikutnya Ada pada Pembuktian Jaringan

Berita15 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM — Pengungkapan laboratorium gelap narkotika di Kabupaten Pidie, Aceh, dengan barang bukti hampir 1,2 ton bruto menjadi capaian penting dalam pemberantasan narkotika nasional. Namun, keberhasilan operasi juga perlu diikuti pengembangan perkara dan pencegahan agar jaringan serupa semakin sulit beroperasi.

Ketua Jaringan Aktivis Nusantara (JAN), Romadhon Jasn, memandang pengungkapan laboratorium narkotika di Aceh sebagai momentum penting untuk memperkuat agenda pemberantasan narkoba di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto. Keterlibatan Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta mitra internasional memperlihatkan pentingnya koordinasi lintas lembaga dalam menghadapi jaringan narkotika lintas negara.

banner 970x250

“Satu ton disita adalah prestasi; membongkar mata rantai kejahatan adalah tantangan berikutnya. Penyidikan perlu mengungkap peran setiap pihak berdasarkan bukti, menelusuri jaringan dan aliran dananya, serta memastikan pertanggungjawaban hukum. Lebih dari itu, pemberantasan narkotika adalah upaya melindungi generasi masa depan agar tidak menjadi korban peredaran dan penyalahgunaan narkoba,” tegas Romadhon kepada wartawan, Minggu (25/10/2026), di Jakarta.

Dalam operasi pada 21 Oktober 2026 yang diumumkan pada 23 Oktober, tim gabungan melakukan penindakan di lima lokasi di Aceh dan mengamankan 11 orang, terdiri atas sembilan warga negara Indonesia dan dua warga negara asing. Barang bukti meliputi sekitar 500 kilogram sabu kristal dan 20 drum berisi bahan yang disebut meth oil, dengan total berat bruto hampir 1,2 ton. Polri menyebutnya sebagai pengungkapan laboratorium gelap dengan barang bukti terbesar di Indonesia.

Baca juga:  Diskusi Politik JAN: Legitimasi Wapres Kuat, Tapi Perlu Dijaga dari Intervensi Luar

Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dalam konferensi pers di Pidie, Jumat (23/10/2026), menyatakan bahwa laboratorium tersebut memproduksi sabu jenis blue ice—yang dikenal sebagai kualitas terbaik—dan diduga terafiliasi dengan sindikat lintas negara yang melibatkan China, Malaysia, dan Indonesia. “Proses yang mereka lakukan sangat sistematis, sangat terstruktur, dan menunjukkan bahwa jaringan ini dikendalikan oleh ahli kimia berpengalaman,” tegas Kapolri.

banner 336x280

Komentar