La Ode Hasidar Tawarkan Transformasi HMI, Dorong Gerakan Intelektual dan Kemandirian Kader

Berita61 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA — Dinamika regenerasi kepemimpinan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menuju Kongres mendatang mulai diwarnai gagasan tentang arah baru organisasi. Bakal Calon Ketua Umum Pengurus Besar HMI (PB HMI) periode 2026–2028, La Ode Hasidar Hasiri, S.Pd., M.Pd., menawarkan konsep transformasi organisasi yang disebutnya sebagai “HMI Reborn”.

Gagasan tersebut tidak diarahkan untuk mengubah identitas HMI, melainkan mendorong pembaruan cara berpikir, pola pengkaderan, tata kelola organisasi, hingga metode perjuangan agar lebih relevan dengan perkembangan zaman.

banner 970x250

La Ode Hasidar menilai HMI menghadapi lingkungan yang jauh berbeda dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Digitalisasi, perkembangan kecerdasan buatan, perubahan struktur ekonomi, kompetisi global, serta cepatnya arus informasi telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dan membentuk opini.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut HMI melakukan evaluasi terhadap metode gerakan tanpa kehilangan nilai-nilai dasar perjuangan organisasi.

“Yang perlu diperbarui bukan nilai perjuangannya, tetapi cara kita menerjemahkan nilai tersebut dalam menghadapi persoalan zaman,” ujar La Ode Hasidar.

Ia menilai modernisasi organisasi harus dimulai dari pembenahan internal. HMI perlu membangun sistem administrasi dan basis data kader yang lebih terintegrasi, memperkuat publikasi kajian, serta memanfaatkan teknologi sebagai instrumen pendidikan dan pengembangan kapasitas kader.

Baca juga:  Visioner Indonesia Apresiasi Prestasi Sekda Sultra di Ajang Digital Leadership Nasional

Namun, modernisasi tidak boleh membuat HMI kehilangan karakter sebagai organisasi perkaderan.

Menurutnya, interaksi langsung, diskusi, pembentukan karakter, dan proses intelektual tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan organisasi. Teknologi hanya digunakan untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan efektivitas kerja kader.

“HMI harus menjadi organisasi yang mampu memanfaatkan teknologi, bukan organisasi yang kehilangan kendali karena teknologi,” katanya.

Kritik Kebijakan Harus Berbasis Kajian

Dalam konteks kebangsaan, La Ode Hasidar mendorong HMI memperkuat perannya sebagai kelompok intelektual yang mampu membaca berbagai agenda pembangunan pemerintah, termasuk Asta Cita.

Ia berpandangan bahwa HMI tidak boleh mengambil posisi secara emosional terhadap kebijakan pemerintah. Sikap organisasi harus dibangun berdasarkan kajian, data, kepentingan masyarakat, serta nilai-nilai independensi yang menjadi karakter HMI.

“Independensi bukan berarti selalu berseberangan dengan pemerintah. Independensi berarti memiliki keberanian untuk mengatakan benar ketika benar dan mengkritik ketika terdapat kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong perubahan budaya gerakan dari sekadar kritik menuju kritik yang menghasilkan solusi.

HMI, kata dia, harus mampu memproduksi kajian yang dapat digunakan untuk membaca persoalan ekonomi, pendidikan, kesehatan, teknologi, lingkungan, hukum hingga pembangunan daerah.

Baca juga:  Jejak Kelam Ruslan Buton: Dari Perwira TNI hingga Terpidana Pembunuhan Petani

Dengan demikian, eksistensi HMI tidak hanya terlihat melalui aksi demonstrasi, tetapi juga melalui kualitas gagasan dan rekomendasi kebijakan yang dihasilkan kader.

Bangun Ekosistem Kemandirian Kader

Agenda lain yang menjadi perhatian La Ode Hasidar adalah persoalan kemandirian kader.

Ia menilai tantangan generasi muda saat ini tidak hanya berkaitan dengan persoalan politik dan sosial, tetapi juga kemampuan menghadapi perubahan ekonomi dan dunia kerja.

banner 336x280

Komentar