La Ode Hasidar Tawarkan Transformasi HMI, Dorong Gerakan Intelektual dan Kemandirian Kader

Berita61 Dilihat
banner 468x60

Kader HMI perlu memiliki kompetensi yang memungkinkan mereka menciptakan peluang, membangun usaha, mengembangkan profesi, serta menciptakan lapangan kerja.

“Kemandirian kader tidak boleh dipersempit hanya pada persoalan kewirausahaan. Kemandirian juga berarti memiliki kompetensi, keahlian, jaringan, keberanian mengambil peluang dan kemampuan menciptakan nilai,” ujarnya.

banner 970x250

Untuk mendukung hal tersebut, ia menggagas penguatan jejaring antarkader lintas profesi dan bidang keilmuan.

Kader yang bergerak di dunia usaha, akademik, teknologi, pemerintahan maupun sektor profesional diharapkan dapat saling terhubung dan menciptakan ekosistem yang memberikan manfaat bagi kader serta masyarakat.

Menurutnya, kekuatan jaringan alumni dan kader HMI seharusnya dapat menjadi modal sosial yang lebih produktif.

Menyiapkan Kader untuk Indonesia 2045

La Ode Hasidar juga menghubungkan agenda pembaruan HMI dengan visi Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, kader HMI hari ini merupakan calon pengisi berbagai ruang strategis bangsa pada masa mendatang. Karena itu, proses pengkaderan tidak cukup hanya menghasilkan kader yang memiliki kemampuan berbicara dan berargumentasi.

Kader harus dipersiapkan untuk menjadi manusia yang memiliki kompetensi, integritas, kemampuan teknologi, kapasitas kepemimpinan, serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

“HMI harus mencetak kader yang mampu berpikir, bekerja dan menciptakan perubahan. Bukan hanya menjadi komentator terhadap perubahan,” katanya.

Baca juga:  KMPS: Gaduh Pergantian Ketua DPRD, Pelayanan ke Rakyat Sultra Terancam Mandek

Ia menilai nilai keislaman dan kebangsaan harus tetap menjadi fondasi dalam proses tersebut. Modernisasi organisasi tidak boleh menghilangkan aspek moral dan tanggung jawab sosial.

Sebab, menurutnya, kemajuan teknologi dan kekuasaan tanpa nilai dapat menimbulkan persoalan baru.

Karena itu, konsep HMI Reborn diarahkan pada keseimbangan antara idealisme dan profesionalitas, tradisi dan inovasi, gerakan lapangan dan produksi pengetahuan, serta kritik dan solusi.

La Ode Hasidar menegaskan bahwa perubahan HMI tidak dapat dibebankan hanya kepada seorang ketua umum.

“Ketua umum hanya bisa membuka jalan. Perubahan yang sesungguhnya membutuhkan seluruh kader yang bersedia bergerak bersama,” ujarnya.

Ia berharap momentum regenerasi kepemimpinan PB HMI periode 2026–2028 tidak hanya menjadi arena perebutan kepemimpinan organisasi, tetapi juga menjadi ruang untuk membicarakan masa depan HMI.

“Pertanyaannya bukan hanya siapa yang akan memimpin HMI, tetapi HMI seperti apa yang ingin kita hadirkan untuk Indonesia,” pungkasnya.

Gagasan HMI Reborn tersebut kemudian diarahkan sebagai tawaran untuk membawa HMI menjadi organisasi yang lebih adaptif, produktif dan relevan dalam menghadapi tantangan abad ke-21, sekaligus mempersiapkan kader yang mampu mengambil peran strategis dalam perjalanan Indonesia menuju 2045.

banner 336x280

Komentar