JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM — Sebuah dokumen berisi data survei setebal 240 halaman beredar luas di media sosial dalam sepekan terakhir. Dokumen yang diklaim dilakukan pada 14–24 Juli 2026 itu memuat berbagai temuan, termasuk tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto dan elektabilitas sejumlah tokoh.
Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyebut bahwa dokumen yang beredar berasal dari lembaga survei Indikator Politik Indonesia. Pernyataan itu disampaikan Dasco di sela-sela kegiatannya di Kompleks Parlemen, Kamis (30/7/2026).
“Kami menerima berbagai masukan, termasuk dari hasil survei yang beredar itu. Kami kaji sebagai bahan evaluasi,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Indikator Politik Indonesia mengeluarkan klarifikasi resmi pada Jumat (1/8/2026). Lembaga tersebut menyatakan bahwa mereka tidak pernah merilis atau mempublikasikan hasil survei nasional yang dilakukan pada Juli 2026. Namun, dalam pernyataan yang sama, Indikator tidak secara tegas membantah telah melakukan survei pada periode tersebut.
Direktur Indikator Fauny Hidayat menyebut bahwa data resmi lembaga selalu dipublikasikan melalui kanal-kanal resmi. “Kami mengimbau publik untuk merujuk pada rilis resmi yang kami keluarkan melalui website dan akun media sosial terverifikasi,” ujarnya.
Pernyataan kedua pihak ini menarik untuk dicermati. Dalam dunia riset, tidak semua hasil survei dipublikasikan secara terbuka. Ada yang disebut survei publik, survei internal untuk klien, dan survei terbatas yang tidak dirilis. Tidak merilis bukan berarti survei tidak pernah dibuat. Sebuah dokumen setebal 240 halaman dengan data detail seperti yang beredar sulit dipalsukan tanpa data riil.
Klarifikasi Indikator hanya menyangkut rilis resmi, bukan keberadaan survei itu sendiri. Dengan kata lain, pernyataan Dasco dan klarifikasi Indikator tidak serta-merta bertentangan. Dasco menyebut dokumen itu dari Indikator, dan Indikator hanya mengatakan tidak merilisnya secara resmi.












Komentar