Kritik Dino Patti Djalal tentang biaya dan frekuensi lawatan menemukan momentumnya. Menariknya, mantan Wamenlu yang lantang mengkritik itu justru merespons pembatalan dengan satu kata: “Alhamdulillah.” Apresiasi dari bekas kritikus menjadi bukti langkah Presiden dianggap tepat.
Data survei memperkuat konteks. Poltracking mencatat kepuasan publik terhadap Prabowo-Gibran di angka 72,2 persen. Peneliti Ahmad Zia Fitrahuddin mengingatkan tantangan terbesar ada di sektor ekonomi mikro yang menyentuh keseharian.
Survei Indopol mencatat angka kepuasan 59,75 persen. Harga kebutuhan pokok menjadi faktor utama ketidakpuasan di segmen ini. Di sinilah pembatalan kunjungan ke Rusia menjadi penting—respons nyata atas keluhan masyarakat.
Langkah ini mematahkan narasi negatif tentang biaya dan frekuensi perjalanan luar negeri. Pengamat Khairul Fahmi mengingatkan, di tengah “perang persepsi”, publik harus membedakan kritik membangun dari fitnah yang merusak kepercayaan negara.
Sentimen positif mengalir deras di media sosial. Warganet mengapresiasi bentuk kesadaran bahwa kondisi ekonomi dan sosial sedang tidak baik-baik saja. Lega karena keluhan akhirnya didengar.
“Kepemimpinan bukan soal siapa paling sering ke luar negeri, tapi siapa paling cepat merespons gelagat rakyat. Ini langkah konkret mengembalikan kepercayaan,” pungkas Romadon.













Komentar