Kita bisa membuka dialog. Bukan saling serang, bukan saling curiga. Tapi duduk bersama, menyampaikan data, dan mencari solusi. Pertamina adalah BUMN milik kita. Mengawalnya dengan bijak jauh lebih baik daripada menghujatnya tanpa arah. Kepercayaan publik adalah aset yang tak ternilai, dan ia hanya bisa tumbuh di tanah keterbukaan.
“Kepada Pertamina, saya titip pesa dari kawan aktivis BEM, Buruh, Nelayan dan Pedagang meminta ada informasi dan ruang untuk publik bertanya. Jelaskan setiap angka dengan transparan. Rakyat akan senang. Rakyat hanya haus akan kejelasan. Jika keterbukaan itu terjadi, maka rasa curiga akan berubah menjadi rasa memiliki,” ucap Romadhon.
Kepada masyarakat dan Mahasiswa, kami titip pesan: jangan biarkan diri kita diadu domba oleh narasi yang hanya ingin melihat negeri ini panas. Tetaplah kritis, tapi dengan kepala dingin. Suara kita akan lebih didengar jika disampaikan dengan cara yang terhormat. Kita bisa bersuara tanpa harus membakar semangat kebersamaan.
“Mari kita jadikan kenaikan ini bukan sebagai pemicu perpecahan, tapi sebagai momen untuk belajar mengawal kebijakan publik dengan lebih baik. Karena pada akhirnya, yang kita inginkan sama: Pertamina yang sehat, harga yang adil, dan Indonesia yang damai. Bersatu kita kawal, bukan bersatu kita rusak,” pungkas Romadhon.












Komentar