JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM- Publik dihebohkan pernyataan Wakil Menteri Pertanian bahwa “jutaan petani happy” akibat dolar perkasa. Kemarahan merebak karena judul terkesan meremehkan rakyat. Namun yang lebih mengkhawatirkan, pernyataan ini perlu dibaca utuh bersama data resmi. Mari cermati fakta sebelum terpecah belah oleh provokasi media tidak bertanggung jawab.
Media arus utama memotong pernyataan pejabat demi mengejar klik. Clickbait menghilangkan konteks penting, publik menelan narasi miring tanpa dasar. Ironisnya, korban bukan hanya pejabat tetapi ketenangan publik yang dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab. Padahal ada data BPS yang seharusnya menjadi bahan diskusi lebih ilmiah.
“Jangan pernah percaya pada judul sebelum membaca seluruh isi berita saudara-saudara, karena media kita saat ini sudah sangat terlatih menjebak logika sehat publik demi mengejar lalu lintas situs dan iklan. Itu modus lama yang harus kita sadari bersama sebagai bangsa dewasa,” ujar Romadhon di Jakarta, Selasa (26/5).
Namun publik juga wajar bertanya. Sebab data BPS April 2026 menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) justru turun 0,09 persen menjadi 125,24. Angka ini sederhana: kenaikan penghasilan petani kalah cepat dibanding kenaikan pengeluaran mereka. Harga hasil pertanian yang diterima petani cuma naik 0,16 persen, sementara harga yang dibayar naik 0,24 persen.
Lebih dalam lagi, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) ambles 0,47 persen. Biaya produksi dan penambahan barang modal malah melonjak 0,63 persen. Pupuk naik, ongkos angkut naik, sewa alat naik, harga solar bikin petani megap-megap. Petani sekarang keluar modal besar dulu, tapi pas panen harga kadang dipermainkan tengkulak. Ini tantangan yang perlu diselesaikan bersama.
