Wamentan Bilang Petani Happy? Baca Dulu Fakta yang Gak Dimuat Media

Berita76 Dilihat
banner 468x60

“Tugas kita sebagai aktivis dan elemen masyarakat adalah mengembalikan konteks utuh yang sengaja dipotong media, bukan ikut menyebarkan potongan kalimat paling kontroversial seorang pejabat. Mari jadi penyejuk, bukan penambah api di tengah krisis ekonomi yang sedang dihadapi rakyat,” kata Romadhon.

Tentu pernyataan Wamentan tidak sepenuhnya salah. Beliau menjelaskan fakta bahwa petani ekspor kopi, karet, cengkeh, gula aren, dan serabut kelapa kebagian berkah kurs dolar. Kelompok ini memang menikmati kenaikan pendapatan. Namun yang menjadi catatan, mayoritas petani kita adalah petani pangan yang justru merasakan tekanan biaya produksi. Inilah yang mungkin luput dari sorotan.

banner 970x250

Jika pemerintah keliru, publik wajib mengingatkan dengan baik. Untuk kasus ini, media juga perlu dievaluasi karena judul clickbait-nya. Mari saling ingatkan tanpa pecah belah. Kita dukung cita-cita presiden untuk keadilan petani, tetapi koreksi membangun juga diperlukan. Senyum orang desa tidak selalu berarti sejahtera, kadang itu cara bertahan hidup agar tidak terlihat terlalu susah.

“Jangan biarkan media berlomba memecah belah bangsa dengan judul provokatif tanpa menyertakan konteks pernyataan narasumber secara jujur dan utuh. Mari kita cerdas, baca tuntas, sebarkan konteks, tetap kritis namun mendukung karena kita yakin pemerintah berpihak pada keadilan petani,” pungkas Romadhon.

Baca juga:  Gubernur Sultra Kunjungi Kawasan Rumah Layak Huni Modern di Makassar

banner 336x280

Komentar