KENDARI, NUSANTARAVOICE.COM – Siang itu, langkah-langkah tegas memasuki halaman SMKN 2 Kendari tak hanya membawa kewibawaan seorang pemimpin, tetapi juga denyut nurani yang peka terhadap hal-hal yang kerap luput dari perhatian.
Inspeksi mendadak yang dilakukan Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka (ASR), bukan sekadar agenda formal. Ia menjelma cermin yang memantulkan dua wajah kepemimpinan: ketegasan yang tak goyah, dan kepedulian yang mengalir senyap namun dalam.
Di balik pintu-pintu kelas, kenyataan berbicara dengan cara yang sunyi namun menggugah. Bangku-bangku yang seharusnya terisi penuh, justru menyisakan ruang-ruang kosong. Dari belasan hingga puluhan nama yang tercatat, hanya segelintir yang hadir. Bahkan, ada ruang belajar yang hanya dihuni tiga hingga empat jiwa muda yang tetap bertahan.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Ini menyangkut masa depan anak-anak kita.”
Kalimat itu meluncur bukan sekadar teguran, melainkan penegasan bahwa pendidikan bukan ruang yang boleh diisi setengah hati. Suaranya tegas, menembus dinding-dinding kelas, menyentuh tanggung jawab yang tak bisa lagi ditunda.
Ketika angka tak sejalan dengan kenyataan, ketika daftar hadir tak lagi merepresentasikan kehadiran yang sesungguhnya, ASR berdiri sebagai pengingat: bahwa sistem yang longgar akan melahirkan generasi yang rapuh. Tegurnya kepada guru dan kepala sekolah bukan sekadar koreksi, tetapi panggilan untuk kembali pada esensi.
Namun, di sela ketegasan itu, ada momen-momen yang tak bisa disusun oleh protokol momen ketika hati berbicara lebih lantang daripada jabatan.
Langkahnya terhenti saat pandangannya jatuh pada kaki-kaki kecil yang tak berbalut sepatu, hanya sandal sederhana yang menjadi saksi keterbatasan. Ia bertanya, dan jawaban yang datang bukan sekadar alasan, melainkan potret kehidupan yang tak selalu ramah.
“Masyallah…” lirihnya, seolah doa yang jatuh perlahan di antara riuh yang mendadak hening.
Tanpa banyak kata, tangannya bergerak. Bantuan itu diberikan bukan sebagai simbol, tetapi sebagai jembatan agar langkah-langkah kecil itu tetap bisa menapak dengan layak di jalan pendidikan.
“Ini untuk beli sepatu. Tapi dipakai, ya.”
Pesan sederhana itu mengandung harapan yang tak sederhana.
Di sudut lain, percakapan kecil membuka jendela pada dunia yang lebih sunyi. Seorang siswa berdiri, menjawab dengan suara yang tertata, namun menyimpan beban yang tak kasat mata.
“Ibu di Malaysia, Pak.”
“Bapak di Batam, Pak.”
“Di rumah berdua dengan adik.”
Kalimat-kalimat itu jatuh satu per satu, seperti kepingan cerita yang perlahan menyusun luka yang tak pernah diumbar.
