Gelombang Protes Menguat, Generasi Muda Jepang Pertahankan Konstitusi Damai

Internasional19 Dilihat

TOKYO, NUSANTARAVOICE.COM — Ribuan warga Jepang, terutama generasi muda, turun ke jalan untuk menentang rencana pemerintah mengubah konstitusi pasifis negara tersebut yang telah berlaku selama hampir 80 tahun. Aksi ini mencerminkan kekhawatiran publik terhadap potensi perubahan arah kebijakan keamanan Jepang di tengah dinamika geopolitik global.

Salah satu simbol unik dalam aksi tersebut adalah lightsaber mainan yang dibawa oleh Gohta Hashimoto, mahasiswa berusia 22 tahun. Baginya, atribut tersebut bukan sekadar aksesoris, melainkan simbol perlawanan terhadap upaya revisi konstitusi yang dinilai dapat membuka jalan bagi keterlibatan Jepang dalam konflik militer.

“Saya ingin menjadi bagian dari gerakan yang menjaga negara tetap damai dan melindungi konstitusi,” ujarnya.

Gelombang protes semakin meluas setelah pemerintah Jepang mencabut larangan ekspor senjata mematikan kebijakan yang dianggap sebagai tantangan langsung terhadap prinsip pasifisme pascaperang. Para demonstran juga menyoroti tekanan geopolitik, termasuk permintaan Amerika Serikat agar Jepang terlibat lebih aktif dalam konflik internasional.

Dalam aksi besar yang digelar di kawasan Nagatacho, pusat politik Jepang, sekitar 36 ribu orang memadati area sekitar parlemen untuk menyuarakan penolakan terhadap perang dan mempertahankan Pasal 9 konstitusi ketentuan yang menolak perang sebagai hak kedaulatan negara.

Aksi ini merupakan puncak dari rangkaian demonstrasi yang terus membesar. Sejak Februari, jumlah peserta meningkat signifikan, dari ribuan menjadi puluhan ribu orang.

Para peserta datang dari berbagai kalangan, mulai dari aktivis senior hingga keluarga muda dan mahasiswa. Mereka membawa berbagai atribut seperti light stick, balon berbentuk angka sembilan, serta poster bertuliskan pesan damai seperti “No one should be sent to war” dan “Cats, not bombs”.