Viral Intimidasi Pedagang, JagaJakarta Dukung Kevin Wu Desak Pemprov DKI Berantas Preman!

Berita53 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM – Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI, Kevin Wu, melontarkan kritik pedas terhadap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait maraknya aksi premanisme yang kembali menghantui ibu kota. Kevin menegaskan bahwa keamanan warga, terutama para pelaku usaha kecil, harus menjadi prioritas utama jika Jakarta ingin benar-benar bersaing sebagai kota global pasca-perpindahan ibu kota.

Fenomena premanisme ini dinilai Kevin bukan sekadar gangguan ketertiban biasa, melainkan ancaman nyata bagi roda ekonomi kerakyatan. Ia menyoroti bagaimana intimidasi terhadap pedagang kecil sering kali luput dari pengawasan sebelum akhirnya meledak di media sosial. Kevin meminta Pemprov DKI melalui Satpol PP dan koordinasi dengan kepolisian untuk lebih proaktif melakukan pencegahan di titik-titik rawan.

Menanggapi hal ini, Koordinator JagaJakarta, Romadhon, menyatakan bahwa keresahan yang disampaikan legislatif adalah cerminan dari suara di akar rumput. “Kami di JagaJakarta melihat bahwa pola pengawasan lingkungan saat ini masih sangat lemah dan cenderung membiarkan gesekan terjadi tanpa ada antisipasi dini dari aparat wilayah,” ujar Romadhon saat dihubungi, Rabu (15/4/2026).

Pernyataan Kevin Wu ini dipicu oleh viralnya video memilukan yang memperlihatkan seorang pedagang bakso di kawasan Tanah Abang menjadi korban intimidasi. Dalam video tersebut, oknum preman tak segan memecahkan piring dagangan karena sang pedagang menolak memberikan uang pungli. Kejadian ini dianggap sebagai tamparan keras bagi citra Jakarta yang tengah bersolek menuju pusat ekonomi internasional.

Baca juga:  Warga Wasolangka Duduki Polda Sultra, LPKP-Sultra Desak Usut Dugaan Mafia Tanah Libatkan Alwi dan PT Krida Agrisawita

Kevin menilai, jika praktik pungli parkir hingga paksaan ‘jatah preman’ pada sektor usaha terus dibiarkan, maka iklim investasi di Jakarta akan memburuk. Para investor, baik lokal maupun asing, dipastikan bakal berpikir dua kali untuk menanamkan modal jika biaya keamanan tidak resmi masih mencekik operasional bisnis. Hal ini dianggap sebagai penghambat besar bagi visi Jakarta masa depan.

banner 336x280

Komentar