JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjadi sorotan publik menyusul beredarnya narasi “matikan kompor” yang viral di media sosial. Penelusuran fakta menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara pernyataan asli menteri dengan judul berita yang beredar luas di masyarakat.
Dalam video utuh saat meninjau stok energi di Colomadu, Bahlil sebenarnya menekankan pentingnya efisiensi konsumsi LPG di tengah ketidakpastian pasokan global. Ia menggunakan frasa “jangan boros” sebagai imbauan moral, bukan instruksi teknis untuk mematikan kompor secara harfiah bagi warga yang sedang memasak.
“Berhentilah menjadi korban potongan video sepihak karena membiarkan jempol menghancurkan upaya pemulihan hanya akan menguntungkan oknum pengejar angka kunjungan tanpa memedulikan stabilitas nasional yang dibangun susah payah di tengah ancaman krisis dunia,” terang Romadhon Jasn, dari Aktivis Nusantara, Minggu (29/3/2026) di Jakarta.
Polemik ini memuncak ketika sejumlah judul berita menyederhanakan imbauan tersebut menjadi “segera matikan kompor setelah masak”. Hal ini memicu gelombang kritik sarkastik dari warganet yang menganggap pernyataan tersebut meremehkan akal sehat publik, padahal substansi aslinya adalah peringatan dini mengenai ambang batas cadangan energi nasional.
Romadhon Jasn, kembali menekankan, “Kritik terhadap pemerintah sangat diperlukan sebagai penyeimbang, namun menghujat membabi buta tanpa melihat data asli hanya memicu perpecahan saat negara membutuhkan kerja sama erat untuk keluar dari ancaman krisis yang jauh lebih besar.”
