Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sultra, Sri Resqina R. Laydi, mengungkapkan bahwa Balai Benih Udang Mata memiliki potensi besar sebagai pusat produksi benih udang (benur) berkualitas di Sultra.
Dalam satu siklus produksi, balai tersebut mampu menghasilkan hingga 1 juta benur, dengan potensi mencapai 4 juta benur per tahun.
“Benur ini telah dimanfaatkan oleh kawasan tambak di Konawe Selatan dan Bombana, dengan estimasi produksi udang sekitar 400 ton. Jika diasumsikan harga udang Rp60.000 per kilogram, maka potensi omzet yang dihasilkan mencapai Rp24 miliar bagi pelaku usaha,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan balai benih udang juga menjadi salah satu sumber PAD, dengan target tahun 2026 sebesar Rp125 juta.
Selain itu, Balai Jasa Dok Perbengkelan turut berperan penting dalam mendukung operasional armada perikanan tangkap melalui layanan docking, perawatan, dan perbaikan kapal dengan biaya terjangkau bagi nelayan.
Pada tahun 2025, balai jasa dok tersebut berhasil menghasilkan PAD sebesar Rp128 juta, dan pada tahun 2026 target ditingkatkan menjadi Rp250 juta.
“Kami berharap adanya peningkatan kapasitas fasilitas dari 2 rel menjadi 5 rel serta perbaikan sarana dan prasarana. Dengan begitu, potensi PAD diperkirakan dapat meningkat hingga Rp500 juta per tahun,” pungkasnya optimistis.
