Dispar, Perumda Sultra, ASTINDO, dan APKULINDO Bahas Pemanfaatan Lahan MTQ untuk Dorong UMKM dan Ekonomi Kreatif

banner 468x60

KENDARI, NUSANTARAVOICE.COM – Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Sulawesi Tenggara bersama Perusahaan Umum Daerah (Perusda) Utama Sultra, Asosiasi Travel Agent Indonesia (ASTINDO) dan Perkumpulan Pengusaha Kuliner Kreatif Indonesia (APKULINDO) menggelar rapat santai di pelataran kawasan MTQ, guna membahas optimalisasi pemanfaatan lahan sebagai pusat pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif.

Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Ridwan Badallah, dan Direktur Utama Perumda Utama Sultra, Akhmad Rizal. Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah pegiat ekonomi kreatif yang turut memberikan masukan terkait konsep pengembangan kawasan.

Menariknya, rapat ini tidak digelar di ruang tertutup ber-AC seperti lazimnya pertemuan formal, melainkan langsung di ruang publik kawasan MTQ. Langkah ini dinilai sebagai pendekatan yang lebih kontekstual dan membumi, karena para pemangku kebijakan dapat langsung melihat kondisi lapangan yang akan dikembangkan.

Dalam pembahasannya, kedua pihak menekankan pentingnya menjadikan kawasan MTQ tidak hanya sebagai lokasi kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Pemanfaatan lahan diarahkan untuk mendukung UMKM lokal, pengembangan sektor kuliner, hingga ruang kreatif bagi seni, kerajinan, dan pertunjukan budaya.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk konkret penerjemahan visi dan misi Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, yang menekankan penguatan ekonomi daerah berbasis potensi lokal, pemberdayaan UMKM, serta pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai pilar utama pertumbuhan daerah. Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya mendorong pemerataan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan ruang-ruang publik yang produktif dan berkelanjutan.

Baca juga:  Gubernur Sultra Hadiri HUT ke-66 Kabupaten Konawe, Tegaskan Pentingnya Persatuan dan Pembangunan Berkelanjutan

Ridwan Badallah menyampaikan bahwa pendekatan rapat di ruang terbuka ini menjadi simbol keseriusan pemerintah dalam merancang kebijakan yang berbasis realitas di lapangan.

“Kita tidak hanya rapat di dalam ruangan ber-AC, tetapi langsung turun ke lokasi. Ini penting agar perencanaan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi kawasan,” ujarnya.

Ridwan Badallah menegaskan bahwa kawasan MTQ memiliki potensi besar untuk menjadi ikon baru pariwisata berbasis ekonomi kerakyatan di Sulawesi Tenggara. Menurutnya, integrasi antara sektor pariwisata dan ekonomi kreatif akan mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

banner 336x280

Komentar

News Feed