8 Rekomendasi Reformasi Polri Bocor, Aktivis: Ini ‘Vitamin’ Buat Polisi Lebih Hebat

Berita105 Dilihat
banner 468x60

JAKARTA, NUSANTARAVOICE.COM– Langkah pembersihan dan perbaikan di tubuh Korps Bhayangkara memasuki babak baru. Komisi Percepatan Reformasi Polri baru saja merampungkan delapan rekomendasi utama yang siap disodorkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh anggota komisi, Mahfud MD, yang menyebutkan bahwa dokumen tebal tersebut berisi ringkasan jernih tentang apa yang sudah baik dan apa yang harus segera dibenahi oleh Polri di tahun 2026 ini.

Mahfud menjelaskan bahwa materi tersebut bukan sekadar coretan di atas kertas, melainkan hasil serapan dari suara masyarakat, analisis media, hingga fakta persidangan yang dirangkum dalam tujuh buku tebal. Semangatnya jelas: transparansi. Dokumen ini nantinya akan menjadi informasi publik agar masyarakat bisa ikut mengawal perubahan. Bagi publik, ini adalah sinyal kuat bahwa Polri tidak menutup diri dari masukan pahit sekalipun demi mencapai standar pelayanan kelas dunia.

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Jaringan Aktivis Nusantara (JAN), Romadhon Jasn, menilai langkah ini sebagai bentuk keterbukaan yang elegan. “Kami melihat delapan rekomendasi ini bukan sebagai beban, melainkan ‘vitamin’ bagi Polri untuk berlari lebih kencang. Jaringan Aktivis Nusantara mengapresiasi kerja keras Komisi Reformasi yang objektif. Ini adalah momentum emas bagi institusi Polri untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar mau berbenah demi menjaga kepercayaan rakyat yang menjadi modal utama dalam memimpin barisan persatuan,” ujar Romadhon dalam keterangannya, Kamis (12/3).

Baca juga:  Audiensi dengan KKP, Gubernur Sultra Tawarkan Konsep Pengembangan Maritim Berbasis Wisata dan Perikanan

Reformasi ini bukan berarti merombak segalanya tanpa dasar, melainkan memilah mana yang perlu diperkuat dan mana yang perlu ditinggalkan. Poin-poin yang diringkas Mahfud MD menunjukkan adanya keinginan kuat untuk menyederhanakan birokrasi di internal kepolisian. Dengan aturan yang lebih simpel dan transparan, kinerja polisi di lapangan diharapkan bisa lebih lincah dan tidak lagi terbebani oleh urusan administrasi yang berbelit, sehingga fokus pada perlindungan warga tetap menjadi prioritas.

Gaya reformasi yang diusulkan ini mencerminkan semangat zaman: efisiensi dan teknologi. Publik tidak lagi butuh janji manis, melainkan aksi nyata yang bisa dirasakan di tingkat RT dan RW. Kehadiran tujuh buku tebal yang berisi komentar masyarakat menunjukkan bahwa suara orang kecil di pinggir jalan pun kini didengarkan dan dijadikan landasan kebijakan. Inilah yang disebut sebagai pemuliaan terhadap nalar publik dalam mengelola institusi negara.

banner 336x280

Komentar