Kado Ulang Tahun untuk Rakyat: Kisah Perahu Layar dan Filosofi Kepala Ikan

banner 468x60

KENDARI, NUSANTARAVOICE.COM- Bagi Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka (ASR), kekuasaan bukanlah tentang fasilitas mewah atau tumpukan materi. Jauh sebelum ia memegang tongkat komando sebagai Panglima Kodam XIV Hasanuddin hingga kini menjadi orang nomor satu di Sultra, ada sebuah janji batin yang tertanam sejak ia masih belia. Sebuah janji yang bermula dari tiupan angin di atas perahu layar di Pulau Wawonii.

Kisah ini dimulai pada tahun 1965. ASR kecil yang baru berusia dua tahun ikut diboyong sang ayah, Andi Baso Syam Daud seorang tentara berpangkat letnan satu yang ditugaskan ke Sulawesi Tenggara. Garis tangan membawa keluarga ini menetap di Pulau Wawonii selama 3,5 tahun, setelah sang ayah yang sudah berpangkat Kapten ditunjuk oleh Gubernur Eddy Sabara menjadi camat di sana.

“Kamu bertugas di Wawonii sampai saya datang ke sana Molulo,” demikian instruksi Gubernur kala itu.

Di pulau itulah, ASR menyaksikan ketulusan rakyat yang paling murni. Saban kali sang ayah hendak menyeberang ke Kendari, warga Wawonii dengan sukarela menyiapkan perahu. Tanpa mesin tempel, mereka hanya mengandalkan kekuatan angin. Jika angin enggan bertiup, perjalanan bisa memakan waktu berhari-hari.

Baca juga:  Lembaga Adat Tolaki Kukuhkan Kepengurusan Baru, Pemprov Sultra Tegaskan Komitmen Dukung Adat dan Budaya

Namun, warga tak pernah meminta bayaran. Sebaliknya, mereka justru menjamu keluarga sang Camat dengan makanan saat tiba di tujuan.

“Bapak saya meninggal, belum sempat membalas kebaikan mereka,” kenang ASR dengan nada lirih. Kenangan tentang warga yang memberi meski mereka sendiri tak punya apa-apa itulah yang membentuk karakter dermawannya hingga kini.

Mengikuti jejak sang ayah, ASR menempuh karier militer melalui AKABRI (sekarang Akmil). Ia lulus tahun 1987. Kariernya cemerlang hingga menjabat sebagai Panglima Kodam XIV Hasanuddin. Di kalangan prajurit, ia dikenal dengan prinsip hidup yang sederhana, “bersedekah adalah kebahagiaan saya.”

Kini, sebagai Gubernur, prinsip itu ia transformasikan ke dalam tata kelola pemerintahan. Di tengah situasi fiskal negara yang sulit dan pemangkasan anggaran, ASR mengambil langkah berani: ia tidak menerima fasilitas apapun dari pemerintah. Gaji, tunjangan, hingga hak-hak materiil lainnya yang melekat pada dirinya selaku kepala daerah, ia lepaskan.

Ia bahkan mengikhlaskan milik pribadinya untuk menutupi celah keterbatasan fiskal demi memastikan pembangunan tetap berjalan. Ia sadar betul bahwa masyarakat tidak bisa menunggu.

Langkah ini bukan untuk gagah-gagahan atau sekadar mencari simpati populis. ASR memegang teguh filosofi “ikan busuk dimulai dari kepalanya.”

Baca juga:  Wagub Sultra Hadiri Dies Natalis ke-44 Universitas Halu Oleo

“Jika kepala sudah busuk atau rusak, maka bagian yang lainnya juga akan ikut rusak,” tegasnya.

banner 336x280

Komentar