“Kami sudah merasakan seperti berada di zona perang,” katanya.
Moein (21), mahasiswa di University of Tehran, mengatakan ledakan terdengar dari dekat kampusnya. Ia mengaku sebelumnya menolak intervensi asing karena khawatir menimbulkan korban baru, tetapi merasa situasi kini penuh ketidakpastian.
“Kami sudah menyiapkan kebutuhan pokok, tetapi tidak ada bunker untuk warga biasa,” ujarnya.
Beberapa warga juga melaporkan gangguan akses terhadap media pemerintah, meski belum jelas apakah hal itu akibat serangan siber atau lonjakan trafik.
Serangan diumumkan oleh Presiden AS saat itu, Donald Trump, yang menyatakan dimulainya “operasi tempur besar” terhadap Iran dan menyerukan rakyat Iran untuk bangkit melawan pemerintahnya.
Militer AS dilaporkan telah meningkatkan kehadiran di kawasan dalam beberapa pekan terakhir sebagai persiapan kemungkinan operasi militer.
Seorang warga Teheran, Mehnaz (27), mengatakan ledakan pertama terdengar sekitar pukul 09.00 pagi, dekat dengan kompleks kantor pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
“Ini perasaan yang aneh. Ada ketakutan, tapi juga harapan akan perubahan,” katanya.
Situasi di Iran hingga kini masih berkembang, dengan kekhawatiran meningkat atas potensi korban sipil lebih lanjut dan dampak geopolitik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
