JAKARTA,NUSANTARAVOICE.COM — Menilai kesehatan PLN hanya dari angka utang ibarat menilai kondisi sebuah rumah sakit hanya dari tagihan alat medisnya. Memang terdapat beban finansial yang besar, namun di balik itu tersimpan fungsi vital yang dijalankan bagi seluruh rakyat. Listrik bukan sekadar komoditas komersial, melainkan oksigen bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang tidak boleh terhenti sedetik pun.
Setiap rupiah investasi yang dikeluarkan PLN tidak menguap begitu saja, melainkan menjelma menjadi ribuan kilometer kabel, gardu induk, dan jaringan distribusi yang menjangkau pelosok negeri. Ketimbang terus memojokkan manajemen dari sisi beban keuangan, publik perlu melihatnya sebagai investasi jangka panjang demi pemerataan pembangunan. Infrastruktur energi tidak tumbuh secara instan, melainkan membutuhkan modal besar di awal demi manfaat berkelanjutan di masa depan.
Direktur Gagas Nusantara, Romadhon Jasn, menilai langkah PLN sebagai bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.
“Keberanian PLN mengambil risiko finansial adalah bukti bahwa negara hadir memastikan tidak ada satu pun rumah di Indonesia tertinggal dalam kegelapan,” ujarnya saat memberikan catatan strategis di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Terlebih pada pekan pertama Bulan Suci Ramadan, keandalan listrik menjadi faktor krusial dalam mendukung kekhusyukan ibadah umat Muslim. PLN membuktikan komitmennya dengan menjaga pasokan tanpa henti, memastikan momen sahur, berbuka, hingga tarawih di seluruh pelosok Nusantara tetap berlangsung tanpa gangguan berarti.
Terkait beban finansial, Romadhon menegaskan bahwa stabilitas tarif yang dirasakan masyarakat selama menjalankan ibadah puasa merupakan hasil dari komitmen PLN menjaga daya beli rakyat.
“Di tengah fluktuasi harga energi dunia, PLN memilih menahan beban finansial agar masyarakat tidak terbebani lonjakan tarif di tengah meningkatnya kebutuhan hidup selama bulan suci,” tegasnya.











Komentar