100 Hari Andi Sumangerukka–Hugua, Kadis Pariwisata: Sultra Fokus Bangun Ekosistem dan Konektivitas Wisata

banner 468x60

KENDARI, NUSANTARAVOICE.COM- Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara, Ridwan Badallah, menyampaikan klarifikasi dan jawaban terbuka atas kritik yang meragukan kapasitasnya dalam membangun pariwisata berkelanjutan. Kritik tersebut muncul sejak awal pelantikannya dan kembali disampaikan dalam sorotan terhadap 100 hari kinerja pemerintahan daerah di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sumangerukka dan Wakil Gubernur Hugua.

Menanggapi pernyataan salah satu praktisi pariwisata Sulawesi Tenggara yang menilai belum terlihat arah pengembangan sektor pariwisata dalam 100 hari kerja, Ridwan menegaskan pemerintah tidak dalam posisi “adem ayem”. Ia menyebut justru sedang bekerja menata fondasi besar pengembangan pariwisata Sultra secara terstruktur dan berkelanjutan.

Ridwan menyatakan bahwa sejak pertama kali dilantik, sudah ada pemberitaan yang mempertanyakan keputusan gubernur dalam menunjuk dirinya sebagai Kepala Dinas Pariwisata. Ia menduga keraguan itu berkaitan dengan kapasitas dan kemampuannya membangun sustainable tourism di Sulawesi Tenggara.

Menanggapi hal tersebut, Ridwan menegaskan bahwa pariwisata berkelanjutan tidak dapat diukur hanya dari lamanya seseorang berkecimpung di sektor ini. Ia mempertanyakan capaian konkret selama satu dekade terakhir, termasuk dampaknya terhadap sistem dan struktur pariwisata daerah.

Ia menyinggung dinamika pariwisata di Wakatobi yang menurutnya mengalami pasang surut. Ridwan juga mengungkapkan bahwa dirinya telah mengundang Badan Pusat Statistik untuk mengklarifikasi data wisatawan nusantara yang selama ini dibanggakan. Dari hasil koordinasi tersebut, ia menyebut bahwa angka wisnus bukan semata-mata jumlah kunjungan ke destinasi wisata, melainkan mencakup seluruh pergerakan orang dalam aktivitas ekonomi antardaerah, sementara hanya sebagian kecil yang benar-benar datang untuk tujuan wisata.

Baca juga:  Visioner Indonesia: JMSI Sultra Tak Punya Legal Standing, Ikut Melapor Bukan Korban Dinilai Cari Sensasi

Menurutnya, jika selama sepuluh tahun ekosistem pariwisata telah terbangun kuat, maka indikatornya akan terlihat jelas pada kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah, stabilitas konektivitas penerbangan, dan keterlibatan masyarakat secara luas. Ia menyebut pada 2025 kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD tidak sampai Rp1 miliar, sementara anggaran yang dikeluarkan mencapai puluhan miliar rupiah. Baginya, kondisi tersebut belum mencerminkan keberhasilan pariwisata berkelanjutan.

Ridwan juga menyoroti persoalan konektivitas menuju Wakatobi yang belum stabil dan hanya berlangsung pada waktu-waktu tertentu. Ia menilai destinasi yang benar-benar sustainable harus memiliki akses transportasi yang kuat dan konsisten.

Terkait 100 hari kinerja pemerintahan, Ridwan menegaskan bahwa dirinya baru menjabat selama satu bulan dan fokus pada penataan awal. “Sebulan saya menjabat, kami langsung merampungkan desain Poros Pariwisata Sultra dan memperbaiki ekosistem pariwisata secara menyeluruh. Kami juga membangun komunikasi intensif dengan Kementerian Pariwisata terkait pembangunan dan pengembangan pariwisata Sultra ke depan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pengembangan pariwisata tidak lagi terpusat pada satu destinasi. Menurutnya, perlu positioning baru bahwa Wakatobi bukan satu-satunya wajah pariwisata Sultra dan seluruh kabupaten/kota harus tumbuh bersama dalam satu ekosistem terintegrasi.

Baca juga:  Gubernur Sultra Tekankan Kualitas dan Profesionalisme Jelang Rakornas Produk Hukum Daerah 2025

Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah membuka akses promosi dan kunjungan wisata melalui funtrip maskapai AirAsia untuk rute langsung Jakarta–Kendari guna meningkatkan konektivitas wisatawan domestik. Ia juga menjajaki peluang rute Morowali–Kendari–Wakatobi dan Makassar–Kendari–Wakatobi sebagai bagian dari penguatan jaringan wisata.

banner 336x280

Komentar