100 Hari Andi Sumangerukka–Hugua, Kadis Pariwisata: Sultra Fokus Bangun Ekosistem dan Konektivitas Wisata

banner 468x60

Di sisi pengelolaan destinasi, Ridwan melakukan pembenahan di Pulau Bokori yang selama ini dinilai kurang terawat. Ia menata ulang fasilitas yang terbengkalai sejak 2016 seperti jet ski, memperbaiki sarana rusak, mengubah pola penanganan sampah di Bokori, Batugong, dan Taipa, serta menyusun desain baru kawasan tersebut termasuk rencana pengembangan fasilitas hiburan dengan melibatkan pihak swasta.

Perbaikan juga dilakukan di kawasan Kendari Water Sport melalui pembersihan area, pembenahan fasilitas, serta penyusunan konsep pengembangan sebagai pusat penyangga pariwisata Sultra. Ridwan menilai Kendari harus diperkuat sebagai hub wisata karena menjadi pintu masuk utama penerbangan dari Jakarta.

Ia memastikan percepatan sertifikasi destinasi Bokori dan perbaikan akses jalan menuju kawasan tersebut juga tengah dilakukan. “Kami tidak hanya bicara konsep sustainable tourism, tetapi langsung membenahi aspek paling mendasar, yaitu kebersihan dan tata kelola destinasi,” tegasnya.

Pendekatan pentahelix tetap menjadi fondasi utama. Ridwan mengaku aktif berdiskusi dengan pelaku usaha seperti ASTINDO, akademisi seperti Dr. Sadarun dan Dr. Ader Laepe terkait pengembangan wisata bawah laut di sekitar Bokori, serta komunitas seni, musik, kriya, dan perancang mode yang selama ini belum terintegrasi dalam perencanaan besar pariwisata.

Baca juga:  Basiran-Rafiun Resmi Daftar Calon Bupati Buton

Kolaborasi juga dilakukan dengan Kadin dalam pengembangan wisata Liangkabori dan penjajakan rute penerbangan langsung Guangzhou–Kendari. Bersama Perusda, Dispar Sultra mendorong pengembangan desa wisata Batugong dan Taipa serta rencana pembangunan beach club di Bokori.

Ridwan menyebut koordinasi lintas daerah dilakukan untuk mendukung Sail Indonesia Agustus 2026 di Buton Utara, Wakatobi, Buton Selatan, Muna Barat, dan Kolaka. Ia memastikan agenda tersebut tidak sekadar seremoni, tetapi diintegrasikan dengan festival budaya, penguatan desa wisata seperti Kampung Nalei Merah Putih, serta Festival Teluk Lande.

Dalam waktu dekat, Dinas Pariwisata akan merampungkan kalender event daerah sebagai bagian dari kepastian promosi dan kunjungan wisatawan. Sejumlah agenda telah dipersiapkan seperti Harmoni Sultra yang dirangkaikan dengan Festival Bokori dan Hari Dirgantara, kolaborasi dengan Mabes AU dalam Semerbak Dirgantara, event China Ekspor bersama Dekranasda, Spot Kuliner Ramadan 2026 x Recto Festival, produksi film “Kandole” bersama komunitas Semut Merah, hingga event lari di kawasan Kendari Water Sport.

Selain itu, tiga unit speed boat milik Dispar yang sebelumnya rusak telah diperbaiki sebagai potensi peningkatan PAD. Rencana kerja sama dengan Dispar Konawe Selatan juga tengah disiapkan untuk pengelolaan Pulau Hari, Pulau Senja, dan Tanjung Kartika.

Baca juga:  Dukung Petani Sawit Lokal, Ketua Umum SPKS Fokus Tingkatkan Produktivitas Petani Sawit di Sultra

Ridwan menegaskan dirinya bukan bekerja sendiri, melainkan berperan sebagai dirigen yang mengorkestrasi seluruh komponen. Ia menyebut pembangunan ekosistem memerlukan proses adaptasi, akumulasi, dan konsolidasi.

“Pariwisata tetap menjadi prioritas dalam pemerintahan ASR–Hugua. Namun kami memilih bekerja dengan strategi yang lebih sistematis, membangun ekosistemnya terlebih dahulu agar dampaknya nyata bagi masyarakat dan lingkungan. Yang saya bangun adalah fondasi. Hasilnya memang bertahap, tetapi arahnya jelas: pariwisata Sulawesi Tenggara harus berdampak nyata dan berkelanjutan,” pungkasnya.

banner 336x280

Komentar