Di Guadalajara dan Puerto Vallarta, aktivitas lumpuh. Transportasi publik dihentikan sementara, penerbangan dibatalkan, dan warga diminta tetap berada di rumah. Kedutaan Besar AS di Mexico City serta Kantor Luar Negeri Inggris juga mengeluarkan peringatan keamanan bagi warganya.
Pemerintah AS sebelumnya menawarkan hadiah US$15 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan El Mencho. Gedung Putih mengonfirmasi dukungan intelijen dalam operasi tersebut.
Pemerintahan Donald Trump selama ini menekan Meksiko untuk bertindak lebih keras terhadap kartel yang menyelundupkan fentanyl, metamfetamin, dan kokain ke AS. Washington bahkan telah menetapkan CJNG sebagai organisasi teroris asing.
Wakil Menteri Luar Negeri AS, Christopher Landau, menyebut El Mencho sebagai “salah satu gembong narkoba paling brutal dan kejam”, serta menyambut kematiannya sebagai perkembangan besar bagi kawasan.
Meski kematian El Mencho dianggap sebagai kemenangan besar, analis memperingatkan potensi kekosongan kekuasaan di tubuh CJNG. Kartel yang berdiri sekitar 16 tahun lalu itu dikenal dengan aksi kekerasan ekstrem dan persenjataan beratnya.
Beberapa sumber menyebut anak tirinya, Juan Carlos, sebagai kandidat penerus. Namun para pakar memperingatkan bahwa jika CJNG terpecah menjadi beberapa faksi, Meksiko berisiko menghadapi lonjakan kekerasan baru.
Insiden ini juga menjadi pengingat pahit akan kuatnya pengaruh kartel di kota-kota besar seperti Guadalajara yang dijadwalkan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 serta destinasi wisata internasional seperti Puerto Vallarta.
Kematian El Mencho mungkin menandai akhir satu bab dalam perang panjang melawan narkotika di Meksiko. Namun, pertanyaan besar kini muncul: apakah ini akan melemahkan kartel, atau justru memicu babak kekerasan yang lebih luas?











Komentar