Rapat Sektor Pariwisata Sultra Bahas Investasi, Bandara Internasional, dan Pasar Tiongkok

banner 468x60

KENDARI, NUSANTARAVOICE.COM- Dinas Pariwisata Sulawesi Tenggara (Sultra) memaparkan sejumlah isu strategis dalam rapat sektor pariwisata yang membahas investasi, aksesibilitas, hingga penguatan konektivitas udara di wilayah kepulauan.

Pembahasan tersebut dirangkaikan dalam Zoom Meeting bertajuk “Fun Trip Guangzhou” pada Sabtu (21/2/2026) yang mempertemukan Dinas Pariwisata Sultra, Cocos Tour Indonesia, serta ASTINDO. Pertemuan ini menjadi bagian dari penjajakan pasar internasional, khususnya Tiongkok, sekaligus sinkronisasi strategi promosi dan konektivitas penerbangan.

Kepala Dinas Pariwisata Sultra, Ridwan Badallah mengungkapkan bahwa sebelumnya telah dilakukan paparan bersama investor asal Korea Selatan yang berminat menanamkan modal sekitar Rp3 triliun di Kabupaten Buton Selatan. Namun, rencana investasi tersebut batal direalisasikan.

Menurutnya, investor mundur karena belum adanya jaminan yang kuat terkait kenyamanan, keamanan, serta kemudahan regulasi dari kepala daerah terpilih. Investor membutuhkan kepastian hukum dan iklim usaha yang kondusif agar investasi dapat memberikan keuntungan yang terukur.

Di sisi lain, Sulawesi Tenggara dinilai memiliki potensi wisata berbasis kepulauan yang besar. Daerah ini memiliki lima poros ekosistem wisata dengan karakter bahari yang kuat. Hampir seluruh pulau utama telah memiliki bandara, namun mayoritas hanya mampu melayani pesawat berukuran kecil. Saat ini, hanya Baubau dan Muna yang dapat disinggahi pesawat berbadan lebih besar.

Baca juga:  BPBD Sultra Tinjau Titik Rawan Bencana di MTQ dan Kali Wanggu Kota Kendari

Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah status bandara internasional. Pada 2017, Wakatobi sempat masuk dalam 10 besar destinasi prioritas nasional. Namun jumlah kunjungan wisatawan masih berada di bawah margin, yakni kurang dari 18.000 orang. Salah satu penyebab utamanya adalah jalur penerbangan yang masih bersifat indirect, sehingga data kunjungan wisatawan internasional tercatat melalui Makassar.

Karena itu, peningkatan status bandara di Kendari menjadi bandara internasional dinilai sebagai solusi strategis. Dengan status tersebut, Kendari diharapkan menjadi hub wisata yang menopang kabupaten sekitar seperti Konawe Selatan, Konawe Utara, dan Konawe Kepulauan yang memiliki potensi wisata bahari unggulan.

Sementara itu, Syasa Dina, menyoroti persoalan aksesibilitas dan tingginya harga tiket domestik. Ia menilai mahalnya harga tiket serta belum terintegrasinya konektivitas antar-pulau menjadi hambatan utama bagi pergerakan wisatawan domestik. Dukungan transportasi udara yang stabil dan terjangkau menjadi kebutuhan mendesak bagi Sulawesi Tenggara sebagai wilayah kepulauan.

Terkait pasar internasional, khususnya Tiongkok, diperlukan kejelasan strategi paket perjalanan. Sulawesi Tenggara perlu diposisikan secara tegas, apakah sebagai destinasi tunggal atau digabung dengan wilayah lain dalam satu paket rute, misalnya Guangzhou–Sulawesi Tenggara–Palu.

banner 336x280

Komentar